Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Jangankan ada batu ada gunung pun akan aku hancurkan.

Begitulah tekadku selama ini ku bangun.
Tekad yang awalnya begitu kuat, terarah, dan terkendali . berharap akan tepat sasaran bak busur panah yang menembus relung hati. Relung hati yang kumuh dengan berbagai warna.
Kini tekad itu berjalan liar, sembrono, berutal penuh dengan bawaan nafsu.
Apa dia sadar telah meruncingkan busur liar itu..?
Apakah mereka sadar? dengan itu semua mereka telah membikin rautan busur kebencian?

Aku bagaikan kurcaci yang diperhamba oleh alatku sendiri.
Alat yang tadinya aku jadikan tameng penghalang dan pengantar sebuah harapan.
Kini, jangankan untuk menjadi tameng, memilikinya pun perlahan menghilang tergantikan oleh sebuah kebencian.

Apa yang membuat dia, mereka begitu..?
Tak fahamkah?
Atau terlalu semukan keberadaan ku ini..??
Malam takbiran,
9 Sep 2010

0 komentar: