Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Pemira FPIK sebagai Birahi sesaat

Sebelumnya saya ucapkan selamat atas terpilihnya saudara Asep dan Afirman sebagai Presiden dan Wakil Presiden BEM FPIK 2011/12 Yang sampai saat ini kurang tahu sudah atau beleumnya beliau-beliu ini dilantik. Walaupun dalam tulisan ini terkesan terlambat, tapi tak apa dari pada tidak sama sekali. Disamping itu pula ketika saat-saat selesai penghirungan suara secara langsung telah menyempaikannya kepada temen sekaligus sahabat saya, Afirman.

Kembali kepada pembahasan tulisan saya yang terkesan sensual dengan menggunakan kata “birahi” namun dirasa tepat sebagai suatu gambaran ketika pesta demokrasi itu telah selesai dilaksanakan. Hingar-bingar keberadaan suatu organisasi mahasiswa sirna setelah perhitungan suara yang sangat alot dikarenakan banyaknya ketidak-terimaan sebagaian partai atas hasil yang diperoleh. Tidak ada kabar lanjut yang terpublis mengenai akhir dari pemira yang kemarin sempat buming diikuti sebagaian kecil mahasiswa di lingkungan Fakultas PIK. Mungkin ini desebabkan karena keterbiasaan hasil akhir dari pemira beberapa tahun terakhir ini yang selalu dimenangkan dari pihak incomben.
Hal-hal di atas sungguh berbanding terbalik ketika masa-masa pemilu raya (Pemira) yang serentak dilaskanakan di seluruh lingkungan Undip. Banyak orang sibuk kesana kemari menjalin silaturahmi dengan iming-iming berbagai macam keuntungan sebagai setrategi dalam pemenangan suara masing-masing partai dan capres cawapres. Tidak ada lagi terlihat kesibuka yang menggila dari setiap elemen yang ikut serta dalam pemira ini seperti saat-saat dilaksanakan debat kandidat yang mendebatkan berbagai isu serta tawaran program kerja yang diyakini paling mujarab dari setiap pasangan yang diusung.  

Ada cerita menarik yang dapat dijadikan gambaran betapa ketika masa-masa peira berbeda dengan masa setelah pemira sekarang. Diataranya waktu itu, ketika naik sopek (kapal kecil) untuk praktikum Ekplorasi dibisiki teman dari partai berplat “S” mengajak berbagabung dalam pemcalonan senator dari partai tersebut. Suatu hentakan ketika kebiasaan lama yang kurang begitu dekat dengan lembaga eksekutif itu yang dulu sempat saya singgahi ketika masa-masa maba (semestar 1-2) yang sempat juga waktu itu dicalonkan menjadi senator juga dari plat “P”.

Selain itu pula, terjadi tragedi penculikan terhadap pengusunan sebagai calon wakil presiden dari no urut 1 yang sekarang tidak ada lagi kotak silaturahmi yang kami jalin berlalu begitu saja dengan kalimat terakhir dari pasangan saya yang menyampaikan ucapan terimakasih atas ketersedian sebagai pendampingnya, sayangnya waktu itu belum sempat terbalas karena keterbiasaan alasan klasik tidak ada pulsa. Mungkin pula karena memang saya bukan orang Partai sehingga setelah perhelatan selesai tidak ada lagi keterikatan bak pemain sepak bola yang habis masa kontraknya.

Padalah sahabat yang mengusung saya itu begitu besarnya penggorbanan untuk mendapatkan pendamping Capres dari partai plat “P” selain telah menawarkan ke beberapa pihak, masih ingat ketika itu adalah hari terakhir pencalonan Capres Cawapres, dengan berbagai macam bujukan untuk mendampingi pencalonan presiden dari partainya sampai-sapai terjadi tragedi penculikan yang mengelitik perut ketika mengingatnya kembali.

Penculikan itu terjadi karena kekeuhnya ketidak-siapan saya yang terlanjur sudah meng-ia-kan pencalonan menjadi senator dari partai “S” sebelumnya sekaligus menjadi lawan berat dari parta yang menawarkan saya menjadi Cawapres. Padahal berkas-berkas yang diperlukan untuk menajdi calon senator telah rampung dan tinggal diserahkan untuk diverifikasi oleh KPR, cerita pencalonan senator itu pun gugur ketika saya dijemput langsung dari Kampus Teluk Awur Jepara oleh orang-orang partai “P”. Saya sendiri tidak begitu mengerti tentang isu-isu yang berkembang dari kedua partai tersebut yang memang waktu itu saya sempat menjadi kader organisasi ekstra backrond dari partai yang menjemput saya ini. Cerita berlanjut ketika bersiap melakukan pendaftaran karena berkas-berkas pencalonan sudah siap sedia tinggal saya tanda tangani. Sempat heran mengingat lumayan kompleksnya persaratan yang harus dipenuhi, tapi tak apa dari pada harus susah-susah mengurusnya kembali.

Cerita lainnya ketika saya dikenalkan kepada pihak partai koalisi berbagai macam pertanyaan yang berbau perpolitikan diajukan terutama isu-isu yang selama ini terjadi di lingkungan kampus dan program yang akan kami laksanakan, tentu tidak luput juga mengenai pembagian setrategi selama dan sesudah ketika pemira dimenangkan kami. Padahal waktu itu sama-sekali belum ada pembicaraan empat mata antara saya dengan pasangan saya mengenai pencalonan yang sudah didaftarkan. Untung keterbiasaan dekat dengan isu politik yang berkembang di negri kita ini, berbagai macam pertanyaanpun bisa saya yakinkan tentu dengan bahasa pengantar berbau politik pula.

Dengan sebagaian cerita itu bisa dibayangkan bagaimana usaha yang saya lakukan untuk dapat beradaptasi mengikuti irama yang sedang berkembang. Cerita-cerita itu terhenti sampai sekarang setelah pemungutan serta penghirungan suara memberikan fakta kekalahan pencalonan saya ini. Bagi saya kekalahan ini bukan merupakan pukulan yang bisa melumpuhkan sebagaian semangat keorganisasian yang telah lama saya gandrungi sejak waktu SD dulu, kini aktivitas saya disamping sebagai mahasiswa ilmu kelautan serta anggota UKK yang telah jauh memebesarkan serta membimbing saya dalam berkarya demi cita-cita yang saya dambakan yaitu MARINE DIVING CLUB.

Demikianlan apa yang dapat saya tulis. Sekali lagi saya ucapkan SELAMAT KEPADA KANG ASEP DAN KANG AFIRMAN YANG TELAH TERPILIH MENJADI PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN BEM FPIK. SEMOGA APA YANG DULU KITA SAINGKAN, DEBATKAN, DISKUSIKAN MENJADI BAHAN-TAMBAH DALAM MEMAJUJAN FPIK KITA INI. Kemudian saya ucapkan terimaskih kepada pihak yang telah mengusung serta membantu dalam pencalonan saya.

Semangat berkarya....!!!

0 komentar: