Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Makna dibalik sebuah kata Profesional (Siapa yang profesinal dan yang tidak profesional..?)

Bagi saya sendiri profesional merupakan suatu kata yang menggambarkan kepribadian seseorang. Professional merupakan harga diri, pola pikir, ideologi, serta garis hidup yang dijalani seseorang dalam menyikapi kehidupan baik dalam sekala individu, interaksi dengan manusia sebagai “hablum minannas” atau sampai pada interaksi dengan Tuhannya "Hablum minallah". Sementara profesionalisme ketika saya search di google menemukan bahwa :

referensi lain yang saya dapatkan mengenai Profesional maupun Profesionalisme :klik di sini

Terkadang kita mudah untuk membalikan sebuah kata pofesionalan menjadi ketidak-profesionalan akibat dari kesalahan dalam menyikapai sebuah persoalan, dimana hal itu merupakan dampak dari adanya interaksi dengan sesama manusia sebagai bagian dari dalil mahluk sosial. Bahkan kita ter-dilemakan dengan adanya anggapan bahwa takaran nilai keprofesionalan kita jauh lebih baik dibanding dengan orang lain. Sehingga kita pun terjebak untuk  mencari-cari kesalahan orang lain, dengan tujuan akhir untuk merendahkan nilai keprofesionalan. Padahal, tidak jarang anggapan terhadap kesalahan orang lain itu adalah kesalahan yang kita lakukan sendiri.

Seperti yang kamarin saya alami. Sedikit geli dan lucu sesungguhnya untuk membahas ini. Namun tidak apa lumayan buat nambah-nambah Postingan blog. Saya coba pereteli satu-persatu kegelian yang saya alami, semoga pembaca juga terhibur dengan kegelian yang akan saya bahas berikut ini. Selamat membaca dan bergeli-geli….



Pada awalnya saya terima sepedas apapun keritikan terhadap design logo hasil kami (Tim / sie Kreatif)  tersebut. Apapun macamnya keritikan itu kami terima dan kami jadikan evaluasi untuk sesegera mungkin ditanggapi bahkan tidak segan untuk mengganti karya kami sekalipun apabila ada yang lebih baik serta tentu telah mengikuti porsedur dan mekanisme yang biasa dijalankan dalam suatu kelompok kegiatan (Panitia). Namun ceritanya lain ketika terjadi sedikit kesalahan prosedur, yang jujur saya sendiri pada awalnya tidak merasa risih dengan adanya design baru (walau ada catatan pembuatan itu diluar prosedur keharusan). 

dimulai dengan tanpa ada persetujuan dan sepengetahuan kami di tim kreatif  ada yang memberikan masukan  menganai design logo. sayangnya masukan ini langsung dipublis di jejaring FB. padahal telah terjadi kontrak kesepakatan antara tim Keratif dengan acara bahwa design logo itu tidak akan dipublis sebelum mendapat logo yang disetujui oleh tim kreatif, acara, Ketua, dan sekretaris yang tentunya setelah melalui nilai mufakat di antara kami. inilah yang mejadi ganjalan dalam hati saya, jujur  saya merasa agak tidak menerima dengan apa yang terjadi. Padahal begitu susahnya kami dari tim kreatif untuk sesegera membuat design logo, waktu itu sampai kami harus rapat sebanyak empat kali untuk mendapatkan logo yang bisa diterima secara mufakat. Kebetulan logo pertama itu saya buat semalam suntuk karena dikejar deadline, untung berkat bantuan tim kreatif lain yang telah membuat skestanya. alhamdullah hari itupun saya selesai membuatnya.

Saya mencoba memberkan masukan atas ketidak sesuaian mekanisme yang berjalan lewat comment  di group kepanitian itu.

terlihat setelah saya memebrikan kimentar ada beberapa komentar lain yang menurut saya terlalu pragmatis menilai ketidak-profesionalan orang lain. seperti yang saya jelaskan di atas tadi. saya memberikan komentar hanya untuk memberikan penjelasan atas ketidak sesuaian prosedur dan tidak menjalankan mekanisme yang biasa dilakukan dalam sebuah kepanitiaan.

Mengenai kata yang saya gunakan "PACOROKOKOD" memang dalam bahasa sunda  merupakan kata kasar, namun lumrah digunakan untuk menggambarkan kesembrautan dalam suatu kepanitian. alasan lain  saya menggunakan kata "Pacorokokod" saya yakin tidak akan bermakna apa-apa ketika kita tidak memahaminya (digunakan di daerah yang menggunakan bahasa yang berbeda). 

disayangkan sesungguhnya andai kata kata "PROFESIONAL" digunakan untuk melihat kasar atau tidaknya bahasa yang digunakan dalam komentar-komentar di atas, pembaca sendiri bisa melihat mana yang lebih banyak menggunakan kata-kata kasar. walau memang saya bukan orang dilahirkan di dataran jawa, sehingga kurang begitu banyak fasih dan mengerti dengan bahasa yang digunakan, namun bukannya saya sudah hampir 2 tahun tinggal di daerah jawa (Semarang) ini..? tentu sedikit saya mengerti kata-kata yang digunkan dalam komentar -komentar diatas. 

pertanyaan saya siapakan yang tidak PROFESIONAL ITU...?????

bagi para pembaca yang kurang memahami bahasa jawa, silahkan mencoba mentranslate baik menggunakan googke translate, maupun menggunakan kamus berjalan seperti yang saya gunakan dengan meminta bantuan teman yang fasih berbahasa jawa.

demikian apa yang dapat saya jelaskan.
selamat mencoba...
hati-hati dengan ketidakProfesionalan.
saya mohon maaf apabila ada yang tidak berkenan dalam tulisan ini.

sengaja saya tidak mencantumkan nama dan foto profil untuk menjaga privasi yang bersangkutan.

0 komentar: