Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Pasang Surutnya Kehadiran Tuhan Pada Diri Ini


Sebuah kalimat yang secara gamblang menjelaskan betapa susahnya mengistiqomahkan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Lahir di sebuah desa yang kental akan tradisi keagamaan yang sangat kuat telah membiasakan diri disiplin dalam setiap tindakan terutama yang menyangkut kewajiban beribadah. Kebiasaan ini berjalan sempurna sampai usia SLTP. Yaa, mulai dari TK, SD, sampai MTs plus dengan pesantren lah diri ini digembleng dasar dasar ilmu agama seperti Fiqih, Tauhid, Sejarah dan Kebudayaan islam, bahkan sampai mempelajari kita kuning tingkat dasar. Karena lingkungan terutama pesantren menjadikan semua bahan pelajaran tertanam rapi dalam setiap tindakan, adanya kedisiplinan solat fadhu berjamaah, bangun pagi sebelum subuh, sampai rutinitas yang tersusun rapi mempersempit ruang tingkah yang tidak berpola dalam kehidupan.


Kebiasaan mensolehkan diri semakin memuncak ketika kelas 8 MTs ditinggal sang ayah bertemu dengan Kholiqnya. Antara gundah, sedih, bingung, bahkan awalnya tidak bisa dipercaya dengan takdir ini karena detik-detik meninggal itu tidak ada satupun tanda bahwa ayah akan meninggal. Malam itu sehabis solat Isa seperti biasa ayah disibukan dengan rapat kemasyarakatan, tentu sebelum berangkat tepatnya setelah solat magrib menjelang solat isa kami selalu duduk di mushola rumah untuk bersama-sama mengaji kitab kuning Jurumiah. Karena ayah pulangnya setelah larut malam, waktu itupun tidak sempat kami bercengkrama bersama hanya tidur yang pulaslah yang mendekatkan kami.

Pagi hari itu entah kenapa, terdengar sayup-sayup dari dapur suara ibu membangunkan kami berdua. Anehnya waktu itu hanya aku sendiri yang terbangun. Lantas aku pun berusaha membangunkan sang ayah yang tidur di ruang keluarga berdampingan dengan kami ketiga anaknya; adik laki-laki yang masih duduk di kelas 3 SD serta adik perempuan kami yang waktu itu masih berumur 2 tahun. Sungguh aneh ketika berusaha membangunkan pergelangan tangan kanan ayah dingin tidak ada pergerakan darah setetespun, jantung terhenti, nafaspun tidak ada. Seketika dugan meninggal dunia semakin memuncak diiringi dengan tetesan air mata. Hari itupun semakin memukul ketika melihat jasad ayah disimpan rapih di liang lahat. Banyak Sodara, Paman, Kakek Nenek, bahkan semua yang hadir disana tidak percaya dengan apa yang kami alami ini. Maklum tidak ada tanda sedikitpun yang kami lihat dari terhentinya umur ayah di usia 42an tahun.

Sehari, seminggu, sebulan kami membiasakan diri hidup sebatang kara tanpa sosok seorang ayah yang kami banggakan. Hanya sosok ibu lah yang sampai sekarang selalu kuat menemai kemana kami melangkah. Tegarnya seorang ibu membesarkan ketiga anaknya yang waktu itu masih belum ada satupun yang dewasa apalagi beban adik perempuan kami yang masih berusia 2 tahun. Kondisi inilah yang semakin memupuk kedekatanku dengan Tuhan. Yaaa, kepada siapa lagi aku menjerit dengan semua ini kalau bukan dengan-Nya. Setahun berlalu, akupun lulus dari MTs dan pesantren. Sedih bukan kepalang disamping akan berpisah dengan sahabat-sahabat selama 3 tahun bersama menikmati siklus hidup selama di sekolah dan di pesantren juga karena tidak ada sosok ayah yang bisa aku jadikan teman diskusi tentang masa depan. Namun, bersukur tidak adanya ayah ada ibu yang sudah terlatih sejak setahun itu menjadi pengganti sosok ayah, dengan kelembuatan dan kasih saying ibu berusaha menjadi 2 sosok yang berbeda di dalam dirinya. Ya sosok seorang ibu dan sosok kepala rumah tangga.

Melanjutkan ke tinggkat SLTA di SMA AL Muttaqin, yang jaraknya lumayan jauh dari rumah awal pertama diri ini merantau jauh dari kelauarga. Suasana sekolah yang modern dan kental akan nuansa islami membuat loncatan yang besar dalam diri ini baik dalam prilaku, keilmuan, pengalaman, dll. Sama dengan suasana sebelumnya ketika masih duduk di MTs Al Fadlliyah yang mengharuskan setiap siswa mulai dari jam setengah delapan sampai jam lima sore harus siap membiasakan diri dengan program ketat baik pada bidang keilmuan umum, agama, terutama pada pembangunan karakter yang unggul sebagai pelajar muslim.

Tiga tahun yang sangat singkat penuh dengan berbagai pengalaman membuat diri ini tangguh mengahdapi berbagai rintangan, terutama godaan masa pubertas yang biasa melanda anak anak seusia kami. Kami pun harus merelakan meninggalkan almamater yang kami cintai untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Proses menjadi lulusan SMA dan cita-cita keterima di PTN favorit ini semakin mendekatkan diri ini untuk berkenalan dengan Allah. Berbagai macam amalan yang sifatnya Habluminallah rutin tiap hari diri ini kerjakan. Harapannya tentu adalah apa yang kami hadapai waktu itu beban harus lulus dari 4 meteri pelajaran IPA, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris bisa kami lalui serta keterima di PTN.

Setelah lulus dan kererima di dua PTN Favorit UGM Jurusan Pembangunan Wilayan, Fakultas Geogrfi dan UNDIP Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan SMA membuat diri ini bersyukur dengan meningkatkan amalan habluminallahnya. Untuk menentukan jurusan mana yang harus diambil membuat diri ini semakin mendekat berusaha mendengarkan bisikan dari sang Kholiq serta meminta pertimbangan kepada guru-guru di SMA tak lupa meminta Doa Restu dari sang ibu akhirnya jurusan Ilmu Kelautan yang aku pilih.

Untung semester pertama berkenalan dengan suasana baru yang jauh dari kebiasaan yang tersusun rapih dengan suasana religius berusaha untuk dipegang erat-erat dalam kehidupan sehari-hari. Namun maklum kuatnya beban lingkungan membuat kebiasaan baik itu perlahan tergusur oleh kebiasaan lain yang membuat diri ini semakin menjauh dari kedekatannya dengan Allah. Amalan yang salah ketika dulu menjadi beban dosa berubah menjadi hal yang biasa. Pernah momen yang membuat diri ini merenung sejanak, namun sayang renungan demi renungan yang hadir seakan tidak berbekas kembali kepada kebiasaan dulu ketika SMA dan Pesantren.

Akhirnya, menjadi mahasiswa tingkat akhir membuat diri ini memperdalam renungan mengenai kebiasaan melupakan Allah. Bertuntung Allah masih sayang dengan mendengarkan renungan itu, alhamdullah awal ramadhan kemarin suasana religius dulu yang pernah dibiasakan dalam diri perlahan kembali tumbuh. Sejak Ramadhan itulah diri ini mencoba memperkuat hidayah yang telah diberikan ini dengan mencoba memperdalam berbagai amalan yang bisa dilakukan baik yang bersifat habluminallah maupun habluminannas. Semoga tekad ini terus tertanam siring dengan semakin pendeknya umur yang diberikan, Semoga Allah lebih mempertajam cahaya hidayahnya. Amin….

Semarang,  17/10/2012
*Tugas  Pendidikan Agama Islam : Pengalaman Spiritual

0 komentar: