Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Marah. Tidak habis pikir. Kecewa. Gila...!!

Untuk suami ibu di sana.

Entah apa yang selama ini kami hadapi, permasalahan tanpa ujung.

Kisah bermula ketika ayah kami meninggal, meninggal ketika kami belum genap dewasa, (sya kelas 2 MTS, adik ke2 umur 8thn, dan adik ke riga umur 1thn).
Sebuah cobaan yang cukup berat kami hadapi, terutama untuk ibu. Ya ibu. Yg dengan kelembutan dan kesabarannya terus berusaha membesarkan kami, mendidik kami, menyekolahkan kami. Kami kuat, kami selalu berusaha menjadi yg terbaik, agar bisa membanggakan ibu ketika kami sekola.

Semua berjalan harmonis tanpa ada permasalahan apapun di keluarga. Karena al hamdulillah ayah meninggal masih ada jasa yg bisa kami gunakan (uang pensiun), sampai saat ini, sampai adik ketiga selesai kuliah. Dan ibu pun alhamdulillah sampai sekarang masih mengabdi sebagai pahlawan tanpa tanpa jasa..

Meninggalnya ayah, menjadikan ibu sebagai nahkoda kapal kami, berbagai ombak, halangan, rintangan harus ibu lalui untuk terus berusaha membesarkan kami. Lama-lama ibu mungkin jenuh, cape, dan bingung ketika harus menahkodai kapal kehidupan dengan sendiri, ibu butuh teman, ibu butuh sosok pengganti ayah. Tepat ketika kuliah smester 4, mulai banyak kabar mengenai sosok baru yg mendekat ke kapal kami, ya mendekat untuk menjadi nahkoda baru, yang kamipun. Tidak tau asal usulnya, hanya ibu yg tahu, dan hanya ibu yg mempertimbangkan untuk mengambil keputusan...

Kami, terutama saya (anak sulung) berusaha untuk memahami dan menerima ketika ibu memberikan kemudi kapal kepada orang yg dianggap ibu layak.

Banyak alasan yg membuat kami tidak bisa menerima sosok pengganti ayah. selain yakin kami bisa, ibu bisa. Adalah jasa ayah kami yang insyaallah untuk biaya sekolah masih bisa tertutupi, dan pertimbangan kami pun bulat, tanpa ayah baru pun kami bisa sekola.

Tp pertimbangan demi pertimbangan ahirnya kami harus merelakan, bahwa ibu memang butuh teman untuk bersandar, teman untuk bercerita betapa beratnya menahkodai kapal kami.

Lambat laun, kami membiasakan diri dg nahkoda baru. Kami mai bisa menerima..

Bukan harta, kedudukan, atau apapun yg membuat kami menerima. Tp sosok keseserhanaan yg bisa mendekatkan kami, kasih sayang yg ditunjukan dengan perbuatan, bukan dengan kata-kata saja!. Bukan juga dengan harta,apa lagi kedudukan. Ketika melibat ayah pulang dr bandung, satu bln sekalipun terasa ada harganya, bisa bergaul dg masyarakat, dekat dengan anak (yaa dengan kami, anak tirinya).

Berjalan dua tahun, kami sudah terbiasa bahkan merasa dia pengganti Alm. Ayah kami..

Cobaan datang, ketika kami mendengar kabar sosok yg sdh menjadi ayah ini memutuskan meninggalkan kemudia kapal, entah alasan apa.. Yg sampai saat ini belm bisa kami terima alasan yg disampaikan ibu, alaaan bahwa sudh tidak mampu untuk memikul bebah nahkoda kapal kami. Padahal yang kami rasa tidak ada beban yg harus ayah hadapi. Semua berjalan normal.

Selang beberapa waktu, seinget saya tidak sampai 1thn sejak ayah meninggalkan kapal, waktu itu smester 8, Ibu memutuskan untuk menikah lagi (menikah untuk yg ke3kalinya).

Kecamuk kami; kecewa, marah, kesal.. Sehingga sejak itu kami tutup rapat hati kami untuk mengijinkan ibu nikah lagi. Lambat laun dengan keterpaksaan, karena sya merasa mungkin memang ibu membutuhkan sosok pengganti ayah untuk membesarkan kami yg sdh mulai dewasa, dengan bebah yg lebh berat pada kebutuhan hidup (sekolah) saat itu adik sdh kelas 1 SMA.

Dengan ketidak-ikhlasan sy membujuk adik2 untuk berusaha menerima sosok baru lagi, ya lagi! Lagi untuk mengijinkan ibu menikah.
Ijin sya ucapkan dengan beberapa catatan, catatan ini sya simpulkan dari kondisi pernikahan ibu yg kedua. Yakni :
1. Ibu tidak bisa ikut suami. Selain karena adik di rumah, adalah karena tugas mengabdi ibu.
2. Yg namanya nikah, harus 1 rumah (ada periode kapan merantau kerja, dan kapan harus pulang).
3. Berusaha mengurus (mengatur) sedikit  lahan di kampung.
4. Jadikan dua kelaurga menjadi 1, yg harmonis..

Ibu, dan calon suami waktu itu mengiakan..
Namun hati terus berkata, bahwa masih berat untuk mengijinkan ibu menikah.

Sampai akhirnya kami terpaksa, dengan ketergesaan ibu menikah dengan kondisi kami bertiga dan nenek menangin di ruang belakang rumah. Tanpa sedikitpun kami melihat sosok baru itu, dengan nada pelan ibu datang berbisik kepada kami, ini sudh menjadi takdir dan jalan kehidupan... Bisikan yang menurut kami terlalu pasrah, terlalu memaksakan, dan ibu hanya memikirkan ketenangan hidup ibu, tanpa bisa berkorban lagi untuk anak2nya...yaa lagi bu.. Pengorbanan besar lagi untuk anak ibu...

Berjalannya waktu sarat2 itupun tidak nampak, tidak ada sesikitpun yg bisa kami rasakan. Hanya kekecewaan. Dan rasa takut akan berdosa ketika ibu hanya mementingkan dirinya.. Kami menegur, bahkan kami menegur dengan kerasnya.. Tujuannya supaya ibu sadar..

Tidak habis pikir, ketika sosok itu tidak bisa mengendalikan kemudi kapal, sosok itu tidak muncul ketika ada masalah, jangankan untuk mengatur lahan. Pulang rutin saja sepertinya susah, dg alasan kerja dan tidak bisa meninggalkan anak di bdg.

Ibu nikah tp terlihat seperti mengemudi sendiri.

Kami kecewa bu, kami kecewa.. Kecewa dengan kasih sayang yg sudah ibu duakan dengan suami ibu yg menurut kami bukan sosok suami apalagi sosok ayah..

Kapan ibu bisa kembali seperti yg dulu, yaa...yang dulu ketika ibu tidak usah repot2 pergi ke bandung menemui suami ibu, tp suami ibu yg pulang kerumah.

Tidak habis pikir ketika dua idul fitri sosok itu tidak pulang, padahal kerja hanya di bandung. Bandung tasik, perjalanan 3-4jam bisa. Malah idul fitri ini dengan seggajanya ibu hari ini dengan memaksa adik ke3 berangkat ke bandung untuk menemui suami ibu. Bukannya lebih bagus dan bukannya yg wajib pulang itu adalah suami ibu???

Bukan alasan, bahwa tidak bisa pulang karena tidak bisa meninggalkan anak di bandung! Ingat!! Sarat no 4...
Seharunya sudh dipikirkan matang, bawa tugas anda selain jadi nahkoda berusaha menyatukan dua keluarga. Dan seharusnya dr awal adh bisa ngukur kemampuan. Kalau tidak bisa kenapa nekad??

Tidak hanya ibu yang banting tulang. hanya sekedar membetulkan genteng rumah saja ibu harus nyuruh orang lain, hanya sekedar menata pekarangan, balong (kolam) ibu harus menyuruh orang lain....

Bukan banyaknya atau besarnya bawaan yg kami inginkan. Kami hanya ingin dua keluarga bersatu, dan hidup harmonis.

Tidak apa2 sosok itu bekerja, merantau. Karena itu kewajiban kepala keliarga. Tp ingat ada saatnya harus pulang, untuk kembali ke rumah, kembai ke keluarga, dan bergaul dengan masyarakat.

Bantu kami ketika kami ada masalah, ikut kami ketika ada musyawarah.

Hai sosok itu, ingat kita adalah suami, ayah. Yg memiliki tanggungjawab besar. Harusnya sebelum memutuskan waktu itu, minimal pikirkan 4 syarat itu. Kalau memang 4 syarat itu saja tida bisa dipenuhi. Harusnya dr dulu berpikir matang untuk mencoba mengemudikan kapal kami.

Kapal kami terlalu rumit untuk dikemudikan. Butuh kesabaran agar kami bisa kompak, bahu membahu bersama-sama mengarungi kehidupan.

Marah dan kecewa ketika ibu harus pergi ke bandung sendirian, kadang dengan adik yang ketiga. Hari ini ibu pergi disaat hari raya, dan di rumah adik ke2 ibu tinggalkan.

Marah dan kecewa ketika sosok itu seperti tanpa berdosa masih berani menahkodai kapal kami.

Wahai yang di sana, semoga Allah SWT. Memberikan petunjuk, dan menjauhkan ibu dari hati yang tertutup...

Berau, 10 Juli 2016

0 komentar: