Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

panggil angkatan kami (MDC XVI) dengan CARCHARODON...!!!

sumber : yahoogroup
Carcharodon Carcharias (Ikan Hiu Putih)
Predator Dengan Enam Indera
oleh Taki Michaelidis
(terjemahan – ele)

Selama 13 juta tahun, ikan hiu, ditinjau dari segi evolusi, pada dasarnya tidak mengalami perubahan. Meskipun banyak spesies di bumi yang berevolusi,Chondrichthye masa kini sangatlah mirip denganChondrichthye yang hidup 13 juta tahun lalu. Singkat kata, ikan hiu telah beradaptasi dengan sangat baik, sehingga tidak ada tekanan alam yang berarti untuk memaksa mereka untuk berevolusi. Salah satu penyebabnya adalah kesempurnaan kemampuan indera ikan hiu. Enam indera yang dimiliki ikan hiu membuat mereka memiliki kemampuan yang tinggi dalam berburu, berkembangbiak, makan, dan berenang. Kemampuan makhluk Chondrichthye ini membuat mereka menjadi makhluk yang cantik, dan sekaligus pemburu yang mematikan. Ukuran mereka bisa mencapai 7 meter panjangnya (rata-rata 5 meter) dan berat badan mereka bisa mencapai 2 ton.




I.) Penciuman
Ikan hiu putih mempunyai lubang hidung dibawah bagian ujungnya (snout). Dengan memasukkan air melalui lubang hidung dan melewati olfactory sacs, ia dapat mendeteksi berbagai macam “bau” dalam lautan. Organ olfactory bulb dalam otak ikan hiu putih melakukan “interpretasi” dari data yang diterima dan organ ini merupakan salah satu komponen terbesar dalam otak. Ikan hiu putih dapat mencium molekul dimana hanya terdapat 1 molekul dalam 25 juta molekul air. Artinya, ikan hiu putih dapat mencium suatu bau “kecil” dari jarak ratusan meter. Kemampuan ini sangatlah berguna untuk mencium setetes darah dari kejauhan untuk secara cepat berenang menyambut si calon mangsa.
II.) Penglihatan
Dalam banyak hal, mata ikan hiu putih mirip sekali dengan mata manusia. Sama-sama punya kornea, iris, pupil, lensa dan retina. Hanya saja, penglihatan ikan hiu putih sedikit lebih baik, yaitu sekitar 7 kali lebih baik daripada manusia. Ini membuat mereka bisa melihat pada kedalaman 50-60 kaki (sekitar 17-20 meter) dalam kondisi penglihatan yang baik. Selain itu, ikan hiu putih mempunyai dalam mata mereka sesuatu yang bernama tapetum lucidumyang meningkatkan tingkat sensitifitas mata mereka terhadap cahaya. Ditambah lagi, beberapa ikan hiu tertentu telah diberkati oleh sesuatu yang dinamakan "nictitating membrane" di bagian bawah kelopak mata yang melindungi mata tersebut dari ikan-ikan yang meronta saat waktu santap. Meski terdapat beberapa persamaan dalam hal penglihatan antar sesama jenis ikan hiu, ukuran mata, kemampuan focus, dan kekuatannya berbeda tiap jenis ikan hiu.

III.) Perabaan
Kulit ikan terbuat dari “struktur bergigi” yang dikenal dengan nama dermal denticles yang membuatnya mempunyai permukaan kulit yang hydrodynamic. Oleh karena itu, ikan hiu putih mampu berenang lebih cepat. Sebagai tambahan, kulitnya yang disebut denganshagreen, berfungsi sebagai lapisan pelindung yang keras dan kasar, yang digunakan untuk melindungi mereka sekaligus melukai mangsa. Seiring ikan hiu putih tumbuh dewasa, dermal denticles (placoid scales) diganti dengan dermal denticles yang lebih besar.
IV.) Pendengaran
Telinga ikan hiu putih terletak di dalam kepalanya. Dengan menghubungkan kuping-kuping yang terletak di dalam tersebut (atau membranous labyrinth) dengan air sekitar melalui sistemtunnels and ducts, ikan hiu putih mempunyai mekanisme sensitif dalam menginterpretasi suara di bawah laut. Karena suara lebih cepat dan lebih jauh merambat dalam air, ikan hiu putih dapat menginterpretasi suara yang bersumber dari jarak beberapa kilometer.

V.) Perasa (Pengecap)
Semua ikan hiu putih akan kehilangan gigi-giginya beberapa kali semasa hidupnya. Gigi-gigi tersebut terletak dalam baris paralel sehingga apabila satu gigi copot, akan langsung digantikan oleh gigi di belakangnya. Semasa hidupnya, ikan hiu putih dapat mempunyai secara keseluruhan antara 14,000 sampai 20,000 gigi. Kebiasaan makan tiap individu membuat bentuk gigi-gigi berbeda. Contoh, ikan hiu putih mempunyai gigi yang tajam seperti gergaji yang berguna untuk memotong dan mengoyak mangsanya. Belum lama ini, terdapat beberapa teori yang mengusulkan bahwa indera pengecap ikan hiu putih telah sangat berkembang. Singkat kata, teori tersebut mengatakan bahwa dari gigitan pertama, ikan hiu putih dapat secara cepat mendeteksi kandungan energi mangsanya sehingga dapat memperhitungkan keuntungan dalam membunuh mangsa tersebut.

VI.) Electrosensory
Electrosensory adalah yang disebut sebagai “indera ke-6” dari ikan hiu putih yang merupakan sistem bioelektrik yang secara khusus untuk mendeteksi atau menemukan mangsa dan juga navigasi dengan menggunakan medan magnetik lautan. Semua jenis ikan hiu mempunyai kanal yang mengandung cairan (jelly) yang terletak di moncongnya. Ini dikenal dengan namaAmpullae of Lorenzini, yang mampu mendeteksi dan memproses arus listrik dalam jarak dekat.Karena setiap makhluk hidup menghasilkan medan elektrik lemah, ikan hiu putih dapat mendeteksi medan ini dalam jangkauan 0-8 Hz dengan perbedaan kekuatan medanelektrik sekecil 1/5,000,000,000 volt per centimeter. Namun, karena pada umumnyamedan bio-elektrik sangatlah lemah, diteorikan bahwa ikan hiu putih menggunakan sistem electrosensory mereka sebagai alat deteksi jarak dekat atau sebagai sistem navigasi untuk berenang dengan mengandalkan medan magnetik bumi. Diperkirakan bahwa ikan hiu martil (Hammerhead) telah berevolusi kepalanya agar memperluas daerah permukaan yang mempunyai reseptor elektrik ini.

VII.) Sumber:
1.) http://www.dive.co.za/graham.htm (Pictures #1, #2)
2.) http://www.mar.dfo-mpo.gc.ca/science/shark/english/ampul.htm (Picture #6)
3.) http://www.enchantedlearning.com/subjects/sharks/anatomy/Senses.shtml (Picture #4)
4.) http://gerber.iwarp.com/descript/physical.html (Pictures #5 and #8)
5.) http://www.learn-animals.com/sharks/03d-scent.html (Picture #3)
6.) http://www.bcsd.k12.ca.us/stiern/senseher.htm (Picture #7)
7.) Class Presentations of MB
8.) Sharks Facts and Stats, A packet from The Center For Shark Research
9.) Anatomical Terminology, Packet
10.)http://www.neaq.org

0 komentar: