Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Metode Penanggulangan Tumpahan Minyak di Laut (Tugas MK Pencemaran Luat)

PENDAHULUAN

Pengertian minyak

Minyak adalah istilah umum yang digunakan untuk menyatakan produk petroleum yang penyusun utamanya terdiri dari hidrokarbon. Minyak mentah dibuat dari hidrokarbon berspektrum lebar yang berkisar dari sangat mudah menguap, material ringan seperti propana dan benzena sampai pada komposisi berat seperti bitumen, aspalten, resin dan wax. Produk pengilangan seperti petrol atau bahan bakar terdiri dari komposisi hidrokarbon yang lebih kecil dan kisarannya lebih spesifik.


Struktur kimia petroleum terdiri atas rantai hidrokarbon dalam ukuran panjang yang berbeda. Perbedaan kimia hidrokarbon ini dipisahkan oleh distilasi pada penyulingan minyak untuk menghasilkan gasoline, bahan bakat jet, kerosin, dan hidrokarbon lainnya. Formula umum untuk hidrokarbon ini adalah CnH2n+2. Contohnya 2,2,4-Trimethylpentane, banyak digunakan pada gasoline, memiliki formula kimia C8H18 yang bereaksi dengan oksigen.

C8H18(aq) + 12.5O2(g) → 8CO2(g) + 9H2O(g) + panas

Pembakaran tidak sempurna pada petroleum atau gasoline menghasilkan emisi gas beracun seperti karbon monooksida dan/atau nitrit oksida. Contohnya:

C8H18(aq) + 12.5O2(g) + N2(g) → 6CO2(g) + 2CO(g) + 2NO(g) + 9H2O(g) + panas

Formasi petroleum kebanyakan terjadi dalam bermacam reaksi endotermik pada tekanan dan/atau suhu tinggi. Contohnya, kerosin dapat pecah menjadi hidrokarbon dalam panjang yang berbeda.

CH1.45(s) + heat → .663CH1.6(aq) + .076CH2(aq) + .04CH2.6(g) + .006CH4(g) + .012CH2.6(s) + .018CH4.0(s) + .185CH.25(s)


Pencemaran minyak di laut

Limbah minyak adalah buangan yang berasal dari hasil eksplorasi produksi minyak, pemeliharaan fasilitas produksi, fasilitas penyimpanan, pemrosesan, dan tangki penyimpanan minyak pada kapal laut. Limbah minyak bersifat mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, dan bersifat korosif. Limbah minyak merupakan bahan berbahaya dan beracun (B3), karena sifatnya, konsentrasi maupun jumlahnya dapat mencemarkan dan membahayakan lingkungan hidup, serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya.

Sumber pencemaran minyak di laut

Limbah minyak yang berasal dari minyak mentah (crude oil) terdiri dari ribuan konstituen pembentuk yang secara struktur kimia dapat dibagi menjadi lima family :

a. Hidrokarbon jenuh (saturated hydrocarbons), merupakan kelompok minyak yang dicirikan dengan adanya rantai atom karbon (bercabang atau tidak bercabang atau membentuk siklik) berikatan dengan atom hidrogen, dan merupakan rantai atom jenuh (tidak memiliki ikatan ganda). Termasuk dalam kelompok ini adalah golongan alkana (paraffin), yang mewakili 10-40 % komposisi minyak mentah. Senyawa alkana bercabang (branched alkanes) biasanya terdiri dari alkana bercabang satu ataupun bercabang banyak (isoprenoid), contoh dari senyawa ini adalah pristana, phytana yang terbentuk dari sisa-sisa pigment chlorofil dari tumbuhan. Kelompok terakhir dari famili ini adalah napthana (Napthenes) atau disebut juga cycloalkanes atau cycloparaffin. Kelompok ini secara umum disusun oleh siklopentana dan siklohexana yang masanya mewakili 30-50% dari massa total minyak mentah.

b. Aromatik (Aromatics). Famili minyak ini adalah kelas hidrokarbon dengan karakteritik cincin yang tersusun dari enam atom karbon. Kelompok ini terdiri dari benzene beserta turunannya (monoaromatik dan polyalkil), naphtalena (2 ring aromatik), phenanthren (3 ring), pyren, benzanthracen, chrysen (4 ring) serta senyawa lain dengan 5-6 ring aromatic. Aromatik ini merupakan komponen minyak mentah yang paling beracun, dan bisa memberi dampak kronik (menahun, berjangka lama) dan karsinogenik (menyebabkan kanker). Hampir kebanyakan aromatik bermassa rendah (low-weight aromatics), dapat larut dalam air sehingga meningkatkan bioavaibilitas yang dapat menyebabkan terpaparnya organisma didalam matrik tanah ataupun pada badan air. Jumlah relative hidrokarbon aromatic didalam mnyak mentah bervariasi dari 10-30 %.

c. Asphalten dan Resin. Selain empat komponen utama penyusun minyak tersebut di atas, minyak juga dikarakterisasikan oleh adanya komponen-komponen lain seperti aspal (asphalt) dan resin (5-20 %) yang merupakan komponen berat dengan struktur kimia yang kompleks berupa siklik aromatic terkondensasi dengan lebih dari lima ring aromatic dan napthenoaromatik dengan gugus-gugus fungsional sehingga senyawa-senyawa tersebut memiliki polaritas yang tinggi.

d. Komponen non-hidrokarbon. Kelompok senyawa non-hidrokarbon terdapat dalam jumlah yang relative kecil, kecuali untuk jenis petrol berat (heavy crude). Komponen non-hidrokarbon adalah nitrogen, sulfur, dan oksigen, yang biasanya disingkat sebagai NSO. Biasanya sulphur lebih dominant disbanding nitrogen dan oxygen, sebaga contoh, minyak mentah dari Erika tanker mengandung kadar S, N dn O berturut-turut sebesar 2.5, 1.7, dan 0.4 % (Baars, 2002).

e. Porphyrine. Senyawa ini berasal dari degradasi klorofil yang berbentuk komplek Vanadium (V) dan Nikel (Ni).


WATHERING/ PELAPUKAN PADA TUMPAHAN MINYAK BUMI


Proses transformasi oil spill di laut yaitu ketika oil spill terjadi di lingkungan laut, minyak akan mengalami serangkaian perubahan/pelapukan (weathering) atas sifat fisik dan kimiawi. Sebagian perubahan tersebut mengarah pada hilangnya beberapa fraksi minyak dari permukaan laut, sementara perubahan lainnya berlangung dengan masih terdapatnya bagian material minyak di permukaan laut. Meskipun minyak yang tumpah pada akhirnya akan terurai/terasimilisi oleh lingkungan laut, namun waktu yang dibutuhkan untuk itu tergantung pada karakteristik awal fisik dan kimiawi minyak dan proses peluruhan (weathering) minyak secara alamiah.

Weathering atau pelapukan minyak adalah proses penghamburan minyak yang tumpah hasil dari sejumlah proses kimia dan fisik yang mengubah komposisi. Minyak akan mengalami pelapukan dalam cara-cara yang berbeda. Beberapa prosesnya, seperti pada pendispersian alami minyak ke dalam air, mengakibatkan bagian dari minyak meninggalkan permukaan air laut, dan sisanya, seperti pada proses evaporasi atau formasi air pada emulsi minyak, mengakibatkan minyak yang tersisa pada permukaan dan tinggal dalam waktu lama (persisten).

Meskipun minyak yang tumpah pada akhirnya akan terurai/terasimilisi oleh lingkungan laut, namun waktu yang dibutuhkan untuk itu tergantung pada karakteristik awal fisik dan kimiawi minyak dan proses peluruhan (weathering) minyak secara alamiah.

Beberapa faktor utama yang mempengaruhi perubahan sifat minyak adalah:

a. Karaterisik fisika minyak, khususnya gravitasi spesifik, viskositas dan rentang didih;
b. Komposisi dan karakteristik kimiawi minyak;
c. Kondisi meteorologi (sinar matahari (fotooksidasi), kondisi oseanograpi dan temperatur udara); dan
d. Karakteristik air laut (pH, gravitasi spesifik, arus, temperatur, keberadaan bakteri, nutrien, dan oksigen terlaut serta padatan tersuspensi).

Cara dimana lapisan minyak pecah dan menyebar sangat tergantung pada ketahanan (tingkat persisten) minyak tersebut. Produk ringan seperti kerosin cenderung terevaporasi, tersebar dengan cepat, dan tidak perlu pembersihan sebab akan hilang secara alami. Ini dinamakan minyak non-persisten. Sebaliknya, minyak persisten seperti pada kebanyakan minyak mentah, pecah dan menyebar lebih lambat dan biasanya memerlukan tindakan pembersihan. Sifat fisika seperti densitas, viskositas, dan titik alir minyak, semuanya mempengaruhi sifat penyebarannya.


Penyebaran tidak terjadi tiba-tiba. Waktu penyebarannya tergantung sejumlah faktor, termasuk jumlah dan tipe tumpahan minyak, kondisi cuaca, dan jika minyak tertinggal di laut atau terbawa ke darat. Kadang-kadang, prosesnya cepat dan pada waktu lain terjadi dengan lambat, terutama di perairan tertutup dan tenang.
Proses pelapukan (Wathering) tumpahan minyak di laut terjadi ke dalam beberapa mekanisme diantaranya : melalui pembentukan lapisan ( slick formation ), penyebaran (dissolution), pergeseran, penguapan (evaporation), polimerasi (polymerization), emulsifikasi (emulsification), emulsi air dalam minyak ( water in oil emulsions ), emulsi minyak dalam air (oil in water emulsions), fotooksida, biodegradasi mikorba, sedimentasi, dicerna oleh planton dan bentukan gumpalan.

Hampir semua tumpahan minyak di lingkungan laut dapat dengan segera membentuk sebuah lapisan tipis di permukaan. Hal ini dikarenakan minyak tersebut digerakkan oleh pergerakan angin, gelombang dan arus, selain gaya gravitasi dan tegangan permukaan. Beberapa hidrokarbon minyak bersifat mudah menguap, dan cepat menguap. Proses penyebaran minyak akan menyebarkan lapisan menjadi tipis serta tingkat penguapan meningkat.

Hilangnya sebagian material yang mudah menguap tersebut membuat minyak lebih padat/ berat dan membuatnya tenggelam. Komponen hidrokarbon yang terlarut dalam air laut, akan membuat lapisan lebih tebal dan melekat, dan turbulensi air akan menyebabkan emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air. Ketika semua terjadi, reaksi fotokimia dapat mengubah karakter minyak dan akan terjadi biodegradasi oleh mikroba yang akan mengurangi jumlah minyak.

Proses pembentukan lapisan minyak yang begitu cepat, ditambah dengan penguapan komponen dan penyebaran komponen hidrokarbon akan mengurangi volume tumpahan sebanyak 50% selama beberapa hari sejak pertama kali minyak tersebut tumpah. Produk kilang minyak, seperti gasoline atau kerosin hamper semua lenyap, sebaliknya minyak mentah dengan viskositas yang tinggi hanya mengalami pengurangan kurang dari 25%.


CONTENGENCY PLANNING

Adalah pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi apabila terjadi kesalahan dalam suatu situasi yang tidak diinginkan. Dalam pelaksanaanya yakni dengan membuat suatu perencana dengan cara mengidentifikasi kemungkinan terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan kemudian membuat sebuah strategi dan pendekatan untuk menghindari, mengatasi atau bahkan mengeksploitasi dampak yang akan terjadi.
Perencanaan kontingensi adalah keterampilan, "Bagaimana jika?" penting dalam semua jenis domain perencanaan, tapi terutama di domain diperebutkan dan kompetitif. Tujuan dari perencanaan darurat adalah untuk mengidentifikasi dan mengembangkan sebuah rencana untuk setiap kontingensi mungkin dan dikembangkan untuk mengeksplorasi dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan apapun yang tidak diinginkan.

Tujuan dari perencanaan darurat adalah untuk mendorong orang berpikir tentang peristiwa darurat yang kemungkinan akan terjadi dan membuat perencanaan penangulangan sebagai respon yang memungkinkan untuk dilakukan.

Pertanyaan-pertanyaan berikut adalah kerangka yang bisa dikembangkan dalam membuat sebuah perencanaan darurat, diantaranya :

a. Bencana atau peristiwa apa yang membutuhkan penanggulangan secara cepat ?
b. Bencana atau peristiwa apa yang mungkin terjadi selama pelaksanaan sebuah rencana ?
c. Aktivitas terburuk apa yang bisa dilakukan untuk merespon keadaan darurat yang terjadi ?
d. Perencanaan seperti apa yang mungkin dilakukan dalam menghadapi sebuah situasi darudat ?
e. Apa yang bisa menyebabkan gangguan terbesar dalam pelaksanaan sebuah perencanaan ?
f. Rencana penanggulangan opsi apa yang bisa dilakukan apabila rencana pertama memerlukan biaya yang besar dalam pembuatannya?
g. Siapa atau apa yang mungkin menghambat pelaksanaan rencana tersebut ?


METODE PENANGGULANGAN TUMPAHAN MINYAK DI LAUT

Langkah pertama yang harus dilakukan dalam penangannan tumpahan minyak (oil spill) di laut adalah dengan cara melokalisasi tumpahan minyak menggunakan pelampung pembatas (oil booms), yang kemudian akan ditransfer dengan perangkat pemompa (oil skimmers) ke sebuah fasilitas penerima "reservoar" baik dalam bentuk tangki ataupun balon. Langkah penanggulangan ini akan sangat efektif apabila dilakukan di perairan yang memiliki hidrodinamika air yang rendah (arus, pasang-surut, ombak, dll) dan cuaca yang tidak ekstrem.

Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-situ burning, penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent dan penggunaan bahan kimia dispersan. Setiap teknik ini memiliki laju penyisihan minyak berbeda dan hanya efektif pada kondisi tertentu.
a. In-situ burning adalah pembakaran minyak pada permukaan air sehingga mampu mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan laut, penyimpanan dan pewadahan minyak serta air laut yang terasosiasi, yang dijumpai dalam teknik penyisihan secara fisik. Cara ini membutuhkan ketersediaan booms (pembatas untuk mencegah penyebaran minyak) atau barrier yang tahan api. Beberapa kendala dari cara ini adalah pada peristiwa tumpahan besar yang memunculkan kesulitan untuk mengumpulkan minyak dan mempertahankan pada ketebalan yang cukup untuk dibakar serta evaporasi pada komponen minyak yang mudah terbakar. Sisi lain, residu pembakara yang tenggelam di dasar laut akan memberikan efek buruk bagi ekologi. Juga, kemungkinan penyebaran api yang tidak terkontrol.

b. Cara kedua yaitu penyisihan minyak secara mekanis melalui dua tahap yaitu melokalisir tumpahan dengan menggunakan booms dan melakukan pemindahan minyak ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan mekanis yang disebut skimmer. Upaya ini terhitung sulit dan mahal meskipun disebut sebagai pemecahan ideal terutama untuk mereduksi minyak pada area sensitif, seperti pantai dan daerah yang sulit dibersihkan dan pada jam-jam awal tumpahan. Sayangnya, keberadaan angin, arus dan gelombang mengakibatkan cara ini menemui banyak kendala.

c. Cara ketiga adalah bioremediasi yaitu mempercepat proses yang terjadi secara alami, misalkan dengan menambahkan nutrien, sehingga terjadi konversi sejumlah komponen menjadi produk yang kurang berbahaya seperti CO2 , air dan biomass. Selain memiliki dampak lingkunga kecil, cara ini bisa mengurangi dampak tumpahan secara signifikan. Sayangnya, cara ini hanya bisa diterapkan pada pantai jenis tertentu, seperti pantai berpasir dan berkerikil, dan tidak efektif untuk diterapkan di lautan.

d. Cara keempat dengan menggunakan sorbent yang bisa menyisihkan minyak melalui mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pada permukaan sorbent) dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini berfungsi mengubah fasa minyak dari cair menjadi padat sehingga mudah dikumpulkan dan disisihkan. Sorbent harus memiliki karakteristik hidrofobik,oleofobik dan mudah disebarkan di permukaan minyak, diambil kembali dan digunakan ulang. Ada 3 jenis sorbent yaitu organik alami (kapas, jerami, rumput kering, serbuk gergaji), anorganik alami (lempung, vermiculite, pasir) dan sintetis (busa poliuretan, polietilen, polipropilen dan serat nilon)

e. Cara kelima dengan menggunakan dispersan kimiawi yaitu dengan memecah lapisan minyak menjadi tetesan kecil (droplet) sehingga mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke dalam tumpahan. Dispersan kimiawi adalah bahan kimia dengan zat aktif yang disebut surfaktan (berasal dari kata : surfactants = surface-active agents atau zat aktif permukaan).


TUMPAHAN MINYAK DI TELUK MEKSIKO

British Petroleum perusahaan minyak Inggris, telah mempublikasikan dan memperbaharui informasi sepanjang dua minggu terakhir dalam bentuk suatu "live feed" di situs web BP: Gulf of Mexico Responses, yang ditujukan kepada pihak-pihak pemerintah terkait penanggulangan tumpahan minyak Teluk Meksiko, seperti yang disampaikan BP, dalam Informasi tersebut sebagai bentuk tanggapan BP atas permintaan pemerintahan Obama.

Pemerintahan Obama telah memerintahkan BP untuk merilis data yang berkaitan dengan tragedi tumpahan minyak di Teluk Meksiko, seperti yang dilaporkan CNN [2], bahwa pada hari Kamis (20/05/2010) lalu pemerintahan Obama menyatakan telah memerintahkan BP untuk mengumumkan semua data yang terkait dengan tumpahan minyak, termasuk analisis sampling lingkungan, laporan penyelidikan internal dan rincian dari upaya-upaya penanggulangan pencemaran.

US Environmental protection Agency (EPA) mengatakan BP diminta untuk mempublikasikan informasi tersebut di suatu situs web dan di-update setiap hari. Krisis Teluk Meksiko sedang berlangsung akibat tumpahan minyak lebih dari 4.000.000 galon minyak mentah yang terus menyembur keluar dari lokasi pengeboran laut (Rig Deepwater Horizon) BP. Tumpahan minyak BP ini adalah terburuk yang pernah dialami dan upaya untuk menutup semburan minyak, belum berhasil.

Pada malam 20 April 2010, Rig "Deepwater Horizon" meledak, dan dua hari kemudian, tenggelam di Teluk Meksiko. Sebelas pekerja tewas. Rig itu dioperasikan oleh perusahaan minyak raksasa BP Inggris namun dimiliki oleh Transocean, perusahaan pengeboran lepas pantai terbesar di dunia. Insiden itu telah menyebabkan bencana tumpahan minyak yang tak terkendali.

Penutup pipa bercorong yang diharapkan mengurangi semburan minyak di Teluk Meksiko oleh menunjukkan keberhasilan kecil. Direktur perusahaan minyak British Petroleum, BP menyatakan, minyak bumi yang bisa ditampung melalui corong itu mencapai 160 ribu liter atau 10 ribu barel sehari. Jumlah ini jauh dibawah prediksi awal sekitar 19 ribu barel seharinya. Sementara minyak yang masih terus menyembur ke laut sangat banyak. 

Sudah lebih dari 70 juta liter minyak yang mencemari teluk Meksiko dalam bencana ekologi terburuk di dunia ini. Diperkirakan, kebocoran pipa itu baru akan tuntas diatasi Agustus mendatang. Ahli perlindungan hayati organisasi PBB - UNEP, Tim Kasten bertanya-tanya, "bagaimana mungkin, bahwa kita sekarang tidak mampu mengatasi masalah seperti ini, padahal kita melakukan pemboran minyak di seluruh dunia?"
Bagi Tim Kasten, dampak ekologi bencana teluk Meksiko sulit dibayangkan. Dua puluh tahun lalu, Kasten bekerja di Kementrian Lingkungan Hidup AS ketika kapal tanker Exxon Valdez menyebabkan bencana serupa di Alaska. Dari pengalaman itu ia menyadari, bahwa untuk mengetahui dampak dan biaya akibat bencana itu akan butuh waktu yang lama. Tuturnya, "Masalahnya bukan pada biaya dan kesulitan yang dihadapi dalam menyedot tumpakan minyaknya saja, melainkan soal pemulihan sistem ekologinya. Ini memerlukan beberapa tahun.“

Kasten baru menyelesaikan sebuah penelitian mengenai biaya dan kegunaan pemulihan sistem ekologi yang rusak. Hasilnya: melakukan investasi untuk mengembalikan alam ke kondisi awalnya hampir selalu lebih menguntungkan. Misalnya, untuk penghutanan kembali pegunungan Drakenberg , pemerintah Afrika Selatan awalnya menginvestasi 3,5 juta Euro, ditambah ongkos pelestarian 1 juta Euro setiap tahunnya. Namun keuntungan yang diraih dari tindakan itu, seperti bertambahnya persediaan air minum, berkurangnya sedimen di sungai-sungai serta sejumlah hal lain menunjukkan bahwa pengeluaran itu dalam satu tahun sudah impas. Penghutanan kembali pegunungan Drakenberg merupakan salah satu kisah sukses bidang ekologi dan ekonomi.

Terkait pencemaran Teluk Meksiko, Kasten, tak berani mengatakan apakah kondisi awalnya bisa dipulihkan. “Sulit sekali untuk menilai harga pencemaran minyak di Louisiana ini. Sekarang kita baru melihat dampaknya pada dunia binatang, kemudian ditambah dampaknya pada sektor perikanan dan turisme yang saat ini sebenarnya memasuki masa-masa liburan. Ini saja sudah berarti kerugian milyaran dolar."

Saat ini lapisan minyak sudah bergerak sejauh 320 kilometer dari pusat semburan pipa yang bocor. Berbentuk ribuan tumpahan kecil yang di terus dorong angin dan mengancam 4 negara bagian. Apabila lapisan minyak ini meluas ke lebih banyak negara bagian, maka biaya penanggulangannya juga akan melonjak.
Menurut Kasten yang perlu diperhatikan adalah penggunaan bahan kimia yang dibutuhkan. Ungkapnya, "Jumlah bahan kimia yang digunakan juga sangat menentukan, Karena bahan-bahan itu memiliki dampak negatif pada lingkungan, meskipun dianggap tidak seburuk dampak cemaran minyak bumi itu“

Kasten memperkirakan, proses pemulihan lingkungan akan dimulai segera setelah seuruh kebocoran minyak itu dihentikan. "Semua pihak yang terimbas bencana ini harus terlibat. Selain itu, perlu menggunakan pengetahuan ilmiah yang mutakhir untuk memastikan neraca antara biaya dan hasil investasi itu. Menurut pengalaman, hasil akhir yang dicapai selalu membenarkan biaya melakukan pemulihan ekologis".
Semakin lama semburan minyak mengancam teluk Meksiko akan semakin panjang pula rekening yang harus dibayar. Menurut pakar UNEP, Tim Kasten biaya perlindungan pantai untuk kawasan rawa di teluk Meksiko setiap tahunnya mencapai 18 milyar Euro. Pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia (05/06) bencana pencemaran minyak di Teluk Meksiko bagaikan peringatan bahwa manusia harus berhati-hati ketika mengeksploitasi alam.


Daftar Pustaka

Ramadhany, Dedy. 2009. Bioremediasi. Syakti, Agung Damar. 2008. Multi-Proses Remediasi di Dalam Penanganan Tumpahan Minyak (Oil Spill) di Perairan Laut dan Pesisir. http://pksplipb.or.id. [online]. 12 November 2009.

Zhu, Xueqing. 2004. Pedoman Untuk Bioremediasi of Garam Terkontaminasi Minyak Rawa. www.google.com. [online]. 12 November 2009.

Sumastri. Bioremediasi Lumpur Minyak Bumi Secara Pengomposan Menggunakan Kultur Bakteri Hasil Seleksi. [online]. 12 November 2009.

Wulandari, annisa. “Bioremediasi Minyak Bumi.” http://annisa-wulandari-wulan.blogspot.com (diakses pada tanggal 11 Februari 2011)

Anonym. “Minyak Bumi.” http://okochan.multiply.com (diakses pada tanggal 11 Februari 2011)
anonim. “Analisis pencemaran Laut Akibat Tumpahan Minyak.” http://furkonable.wordpress.com (diakses pada tanggal 11 Februari 2011)

anonim. “Informasi Tumpahan Minyak di Teluk Meksiko”. http://blogodril.blogspot.com (diakses pada tanggal 11 Februari 2011)


1 komentar:

Adhi Muhammad Faris Katili mengatakan...

menarik sekali,terima kasih informasinya. jadi kalo cara yang paling efektif di laut yang tidak tennag itu menggunakan teknik penanggulangan yang mana ya?