Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Lap. Biokim Uji Lemak/Minya

LEMBAR
PENGESAHAN

Satuan cara I (Uji Lemak/ minyak) pada praktikum mata kuliah biokimia dilakukan pada
hari : Rabu
tanggal : 20 Mei 2009
waktu : 15.30 WIB s.d 18.00 WIB
tempat : Laboratorium Pragram Studi Ilmu Kelautan kampus FPIK Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Sudarto, SH. Tembalang Semarang.









BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahua dan teknologi yang telah menjerat kepada seluruh komponen sisi keberlangsungan hidup manusia tidak bisa masuk begitu saja. Dibutuhkan komitmen bersama baik pemereintah sebagai wadah penggerak utama maupun komponen masarakat yang secara langsung berhadapan untuk dapat menguasai dan memanfaatkannya. Sehingga didapat hasil yang berkesinambungan antara perkembangan ilmu pengetahuan, penemuan teknologi baru dengan daya guna yangbisa dipakai oleh masyarakat.
Atas dasar komitmen tersebut maka tidak bisa dipungkiri keberadaaan seoarang mahasiswa khususnya mahasiswa Ilmu kelautan dituntut harus memiliki dayan guna baik dalam menciptakan keilmuan dan teknologi terbaru maupun memanfaakan keilmuan dan teknologi yang sudah ada yang bisa diterapkan di lingkungan masarakat dalam cakupan kecilnya dan bangsa dalam cakupan besarnya.
Untuk mencapai komitmen tersebut di atas, maka langkah awal yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa ilmu Kelautan adalah dengan mempelajari konsep keilmuan yang berkaitan erat dengan Progran Strudi Ilmu kelautan salah satunya adalah dengan melakukan satuan acara praktikum pada mata kuliah Biokimia dengan sub bahasan yang diparktikumkan adalah “ Uji Lemak / Minyak, dan Ektrasi Alginat Pada Rumpu Laut”.


Maksud dan Tujuan
Setelah melakukan praktikum Biokimia serta dengan menyusun laporan hasil praktikum diharapkan mahasiswa Ilmu Kelautan mampu :
menentukan bilangan penyabunan.
menentukan asam lemak.
menentukan uji kelarutan minyak/lemak.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Lemak/ Minyak
Lipid (dari kata yunani Lipos. Lemak) merupakan penyusun tumbuhan atau hewan yang dicerikan oleh sifat kelarutannya. Terutama lipid tidak bisa larut dalam air, tetapi larut dalam larutan non polar seperti eter.
(Hart, 2003)

Lemak atau minyak ialah triester dari gliserol dan disebut trigliserida. Bila minyak atau lemak dididihkan dengan alkali, kemudian mengasamkan larutan yang dihasilakan, maka akan didapatkan gliserol dan campuran asam lemak. Reaksi ini disebut penyabunan.

(Hart, 2003)

Lemak/minyak merupakan asam karboksilat/asam alkanoat jenuh alifatis (tidak terdapat ikatan rangkap C=C dalam rantai alkilnya, rantai lurus, panjang tak bercabang) dengan gugus utama –COOH dalam bentuk ester/gliserida yaitu sesuatu jenis asam lemak atau beberapa jenis asam lemak dengan gliserol suku tinggi.

(smk3ae.wordpress.com /23/05/09)

Lemak/ minyak ialah trigliserida, yaitu trimester dari dliserol. Asam lemak ialah asam yang diperoleh dari proses penyabunan lemak/ minyak.

(Hart, 2003)


Minyak / lemak merupakan lipida yang banyak terdapat di alam. Minyak merupakan senyawa turunan ester dari gliserol dan asam lemak. Struktur umumnya adalah :

CH2-O-C-R1

CH-O–C–R2

CH2–O–C–R3
R1,R2, R3 adalah gugus alkil mungkin saja sama atau juga beda. Gugus alkil tersebut dibedakan sebagai gugus alkil jenuh (tidak terdapat ikanatanrangkap) dan tidak jenuh (terdapat ikan rangkap).

(Hart, 2003)

Lemak adalah suatu gliserida dan merupakan suatu ester. Apabila ester ini bereaksi dengan basa maka akan terjadi saponifikasi yaitu proses terbentuknya sabun dengan residu gliserol. Sabun dalam air akan bersifat basa. Sabun ( R COONa atau R COOK ) mempunyai bagian yang bersifat hidrofil (- COO -) dan bagian yang bersifat hidrofob (R – atau alkil). Bagian karboksil menuju air dan menghasilkan buih (kecuali pada air sadah), sedangkan alkil (R -) menjauhi air dan membelah molekul atau kotoran (flok) menjadi partikel yang lebih kecil sehingga air mudah membentuk emulsi atau suatu lapisan film dengan kotoran. Air adalah senyawa polar sedangkan minyak adalah senyawa non polar, jadi keduanya sukar bercampur oleh karena itu emulsinya mudah pecah. Untuk memantapkan suatu emulsi perlu ditambahkan suatu zat emulgator atau zat pemantap, antara lain ;




1. Ca Butirat, Ethanol.
2. Senyawa pembentuk sel liofil,protein, gum, dan gelatin.
3. Garam Fe, BaOH, SO4, Fe(OH)SO4, PbSO4, Fe2O3, Tanah liat, CaCO3, dll.

(smk3ae.wordpress.com /23/05/09)

Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi (rantai C lebih dari 6). Karena berguna dalam mengenal ciri-cirinya, asam lemak dibedakan menjadi asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh hanya memiliki ikatan tunggal di antara atom-atom karbon penyusunnya, sementara asam lemak tak jenuh memiliki paling sedikit satu ikatan ganda di antara atom-atom karbon penyusunnya.
(Wikipedia Indonesia /23/05/09)

Asam lemak, bersama-sama dengan gliserol, merupakan penyusun utama minyak nabati atau lemak dan merupakan bahan baku untuk semua lipida pada makhluk hidup. Asam ini mudah dijumpai dalam minyak masak (goreng), margarin, atau lemak hewan dan menentukan nilai gizinya. Secara alami, asam lemak bisa berbentuk bebas (karena lemak yang terhidrolisis) maupun terikat sebagai gliserida.

(Wikipedia Indonesia /23/05/09)

2.2. Sifat Lemak/ Minyak
Asam lemak merupakan asam lemah, dan dalam air terdisosiasi sebagian. Umumnya berfase cair atau padat pada suhu ruang (27° Celsius). Semakin panjang rantai C penyusunnya, semakin mudah membeku dan juga semakin sukar larut.
Asam lemak jenuh bersifat lebih stabil (tidak mudah bereaksi) daripada asam lemak tak jenuh. Ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh mudah bereaksi dengan oksigen (mudah teroksidasi). Karena itu, dikenal istilah bilangan oksidasi bagi asam lemak.
Keberadaan ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh menjadikannya memiliki dua bentuk: cis dan trans. Semua asam lemak nabati alami hanya memiliki bentuk cis (dilambangkan dengan "Z", singkatan dari bahasa Jerman zusammen). Asam lemak bentuk trans (trans fatty acid, dilambangkan dengan "E", singkatan dari bahasa Jerman entgegen) hanya diproduksi oleh sisa metabolisme hewan atau dibuat secara sintetis. Akibat polarisasi atom H, asam lemak cis memiliki rantai yang melengkung. Asam lemak trans karena atom H-nya berseberangan tidak mengalami efek polarisasi yang kuat dan rantainya tetap relatif lurus.
Ketengikan (Ingg. rancidity) terjadi karena asam lemak pada suhu ruang dirombak akibat hidrolisis atau oksidasi menjadi hidrokarbon, alkanal, atau keton, serta sedikit epoksi dan alkohol (alkanol). Bau yang kurang sedap muncul akibat campuran dari berbagai produk ini.
(Wikipedia Indonesia /23/05/09)

2.3 . Penamaan Asam Lemak
Beberapa aturan penamaan dan simbol telah dibuat untuk menunjukkan karakteristik suatu asam lemak.
Nama sistematik dibuat untuk menunjukkan banyaknya atom C yang menyusunnya (lihat asam alkanoat). Angka di depan nama menunjukkan posisi ikatan ganda setelah atom pada posisi tersebut. Contoh: asam 9-dekanoat, adalah asam dengan 10 atom C dan satu ikatan ganda setelah atom C ke-9 dari pangkal (gugus karboksil). Nama lebih lengkap diberikan dengan memberi tanda delta (Δ) di depan bilangan posisi ikatan ganda. Contoh: asam Δ9-dekanoat.
Simbol C diikuti angka menunjukkan banyaknya atom C yang menyusunnya; angka di belakang titikdua menunjukkan banyaknya ikatan ganda di antara rantai C-nya). Contoh: C18:1, berarti asam lemak berantai C sebanyak 18 dengan satu ikatan ganda.
Lambang omega (ω) menunjukkan posisi ikatan ganda dihitung dari ujung (atom C gugus metil).
2.4. Biosintesis asam lemak
Pada daun hijau tumbuhan, asam lemak diproduksi di kloroplas. Pada bagian lain tumbuhan dan pada sel hewan (dan manusia), asam lemak dibuat di sitosol. Proses esterifikasi (pengikatan menjadi lipida) umumnya terjadi pada sitoplasma, dan minyak (atau lemak) disimpan pada oleosom. Banyak spesies tanaman menyimpan lemak pada bijinya (biasanya pada bagian kotiledon) yang ditransfer dari daun dan organ berkloroplas lain. Beberapa tanaman penghasil lemak terpenting adalah kedelai, kapas, kacang tanah, jarak, raps/kanola, kelapa, kelapa sawit, jagung dan zaitun.
Proses biokimia sintesis asam lemak pada hewan dan tumbuhan relatif sama. Berbeda dengan tumbuhan, yang mampu membuat sendiri kebutuhan asam lemaknya, hewan kadang kala tidak mampu memproduksi atau mencukupi kebutuhan asam lemak tertentu. Asam lemak yang harus dipasok dari luar ini dikenal sebagai asam lemak esensial karena tidak memiliki enzim untuk menghasilkannya.
Biosintesis asam lemak alami merupakan cabang dari daur Calvin, yang memproduksi glukosa dan asetil-KoA. Proses berikut ini terjadi pada daun hijau tumbuh-tumbuhan dan memiliki sejumlah variasi.
Kompleks-enzim asilsintase III (KAS-III) memadukan malonil-ACP (3C) dan asetil-KoA (2C) menjadi butiril-ACP (4C) melalui empat tahap (kondensasi, reduksi, dehidrasi, reduksi) yang masing-masing memiliki enzim tersendiri.
Pemanjangan selanjutnya dilakukan secara bertahap, 2C setiap tahapnya, menggunakan malonil-KoA, oleh KAS-I atau KAS-IV. KAS-I melakukan pemanjangan hingga 16C, sementara KAS-IV hanya mencapai 10C. Mulai dari 8C, di setiap tahap pemanjangan gugus ACP dapat dilepas oleh enzim tioesterase untuk menghasilkan asam lemak jenuh bebas dan ACP. Asam lemak bebas ini kemudian dikeluarkan dari kloroplas untuk diproses lebih lanjut di sitoplasma, yang dapat berupa pembentukan ikatan ganda atau esterifikasi dengan gliserol menjadi trigliserida (minyak atau lemak).
Pemanjangan lebih lanjut hanya terjadi bila terdapat KAS-II di kloroplas, yang memanjangkan palmitil-ACP (16C) menjadi stearil-ACP (18C). Enzim Δ9-desaturase kemudian membentuk ikatan ganda, menghasilkan oleil-ACP. Enzim tioesterase lalu melepas gugus ACP dari oleat. Selanjutnya, oleat keluar dari kloroplas untuk mengalami perpanjangan lebih lanjut.
(Wikipedia Indonesia /23/05/09)

2.5. Fungsi Lemak
Begituh banyak fungsi dari lemak itu sendiri, diantaranya adalah sebagai pembangun sel. Lemak adalah bagian penting dari membran yang membungkus setiap sel di tubuh kita. Tanpa membran sel yang sehat, bagian lain dari sel tidak dapat berfungsi.
Sumber energi. Lemak adalah makanan sumber energi yang paling efisien. Setiap gram lemak menyediakan 9 kalori energi, sedangkan karbohodrat dan protein memberi 4 kalori.
Melindungi organ. Banyak organ vital seperti ginjal, jantung, dan usus dilindungi oleh lemak dengan memberinya bantalan agar terhindar dari luka dan menahan agar tetap pada tempatnya.
Pembangun hormon. Lemak adalah unsur pembangun sebagian senyawa terpenting bagi tubuh, termasuk prostaglandin, senyawa semacam hormon yang mengatur banyak fungsi tubuh. Lemak mengatur produksi hormon seks.

Pembangun otak. Lemak menyediakan komponen penyusun tidak hanya bagi membran sel otak, tapi juga myelin, 'jaket' lemak yang menyelimuti tiap serat syaraf, yang membuatnya mampu menghantar pesan dengan lebih cepat.

2.6. Bilangan Penyabunan
Bilangan penyabunan adalah jumlah mg KOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan 1 g lemak. Untuk menetralkan 1 molekul gliserida diperlukan 3 molekul alkali:
R1 C OOCH2 R1COOK HO C H2
│ + │
R1 C OOCH + 3 KOH → R2COOK + HO C H
│ + │
R3COOCH2 R3COOK HOCH2
Pada trigliserida dengan asam lemak yang rantai C-nya pendek, akan didapat bilangan penyabunan yang lebih tinggi daripada asam lemak dengan rantai C panjang. Mentega yang kadar butiratnya tinggi mempunyai bilangan penyabunan yang paling tinggi.

Bilangan Penyabunan



(Winarno, F.G. 1991)
2.7. Titrasi Redoks
Merupakan titrasi yang meliputi hamper semua reaksi oksidasi dan reduksi. Oksidasi mengacu pada setiap perubahan reaksi kimia dimana terjadi kenaikan bilangan oksidasi. Reduksi adalah penurunan biloks. Reaksi redoks dapat dilakukan untuk analisis volumetri asalkan keseimbangan yang tercapai setiap penambahan titrat dapat berlangsung dengan cepat.
(Rival. 1995)
2.8. Pengenceran
Pengenceran merupakan proses mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan menambah suatu pelarut, sehingga diperooleh volume akhir yang lebih besar dengan konsentrasi larutan yang lebih rendah. Pada proses ini, volume dan kemolaran berubah. Jumlah mol zat terlarut tidak berubah. Maka diperoleh persamaan:
M1 . V1 = M2 . V2
M1 : Konsentarsi awal
M2 : Konsentarasi setelah pengenceran
V1 : Volume benda
V2 : Volume setelah pengenceran
(Khopkar. 1990)

2.9. Analisa Bahan
2.9.1. Alkohol
2.9.1.1. Pegertian Alkohol
Alkohol dan eter merupakan senyawa-senyawa organik yang mengandung atom oksigen yang berikatan tunggal. Kedudukan atom oksigen didalam alkohol dan eter mirip dengan kedudukan atom oksigen yang terikat pada molekul air. Oleh karena itu dapat dikatakan struktur alkohol adalah sama dengan struktur air, dimana satu atom H pada air diganti dengan R. sedangkan struktur eter adalah sama dengan struktur air dimana kedua atom H pada air diganti dengan R.
H-O-H R-O-H R-O-R
Air Alkohol Eter
Gugus R pada alkohol dan eter dapat berbentuk alkil atau aril. Oleh karena itu, kedua golongan senyawa ini sangat luas dijumpai. Baik dari hasil sintesis maupun yang terjadi secara alami. Alkohol dan eter merupakan isomer, maksudnya alkohol dan eter yang mempunyai rumus molekul sama, tetapi mempunyai struktur yang berbeda sehingga rumus molekul umum alkohol dan eter adalah sama, yaitu C2 H2O + 2O
CH3CH3-O-H CH3-O-CH3
Metanol Dimetil eter
Bila diperhatikan metanol dan dimetil eter diatas mempunyai rumus struktur yang berbeda, tetapi rumus molekulnya sama : C2H6O.
Gugus alkil pada alkohol boleh alifatik, boleh siklik. Namun yang biasa disebut alkohol adalah yang mempunyai gugus alkil (R) alifatik. Oleh karena itu, bila dikaitkan dengan alkanci, maka penamaan alkohol adalah mirip dengan alkana, dimana akhiran pada alkana diganti dengan ol pada alkohol dumus molekul alkohol atau alkanol adalah C2H2O + 2O
(Keenan,1992)
2.9.1.2. Penggolongan Alkohol
berdasarkan struktur alkohol dapat terbagi menjadi tiga golongan yang didasarkan pada atom karbon yang mengikat gugus hidroksil :
1. Alkohol primer adalah alkohol dimana gugus hidroksil (-OH) terikat pada atom karbon yang merugikan satu atom karbon yang lain.
2. Alkohol sekunder adalah alkohol dimana gugus hidroksil (-OH) terikat pada atom karbon yang mengikat 2 atom karbon yang lain.
3. Alkohol tersier adalah alkohol dimana gugus hidroksil (-OH) terikat pada atom karbon yang mengikat tiga atom karbon yang lain.
Sifat-sifat fisika dan kimia alkohol sering kali tergantung pada penggolongan tersebut.
(Mastjah, Sabirin, dkk. 1993)
2.9.1.3. Sifat Alkohol
Sifat fisika : alkohol mendidih pada temperatur yang cukup lebih tinggi dibandingkan hidrokarbon oleh asosiasi molekul-molekul alkohol lewat ikatan hidrogen (garis putus-putus menunjukkan ikatan hidrogen Hu).
(Riduan, S. 1990)

2.9.2. HCl
Larutan yang berwarna jernih tak berwarna baunya merangsang hidung, titik didih 850 C titik beku -1100 C termasuk asam kuat.
2.9.3. Aquadest
Air murni hasil dari penyulingan memiliki titik didih1000 C titik beku 00 C rumus molekulnya dalah H2O tidak berwarna sifatnya netral, dan sebagai pelarut.
2.9.4. NaOH
Termasuk basa kuat padatan putih larut dalam air membesarkan kalor dan dapat merusak kulit.





















BAB III
METODOLOGI

3.1. Hari dan Tempat

Satuan cara I (Uji Lemak/ minyak) pada praktikum mata kuliah biokimia dilakukan pada
hari : Rabu
tanggal : 20 Mei 2009
waktu : 15.30 WIB s.d 18.00 WIB
tempat : Laboratorium Pragram Studi Ilmu Kelautan kampus FPIK Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Sudarto, SH. Tembalang Semarang.

3.2. Alat dan Bahan
3.2.1. Alat
Pada praktikum satua acara I (Uji Lemak/ Minyak) alat yang digunakan adalah :
Tabung Erlenmeyer
Pengaduk
Pemanas (kompor listrik)
Tabung reaksi
Pipet tetes
Alat titrasi
Gelas Ukur
Buret
Gunting








3.2.2. Bahan
Bahan yang digunakan pada satuan acara I (uji lemak/ Minyak) adalah :
1.5 gram Minyak Ikan
NaOH metanoat
Indikatir Penopillin (PP)
HCl 0,5 N
Etanol (CH3CH2OH.

3.3. Gambar dan Kegunaan
No
Nama
Gambar
Kegunaan
1
Elenmeyer





Tempat untuk mendapatkan larutan campuran Minyak ikan, NaOH metanoat,
2
Kaca Pengaduk





Sebagai alat untuk mendapatkan campuran larutan Minyak Ikan dan NaOH Metanoat.
3
kompor listrik





Sebagai alat pemanas
5
Pipet Tetes





alat untuk meneteskan indicator PP (Penopillin)
6
Alat titrasi






Tempat untuk melakukan titrasid dengan memasukan HCl
Sebanyak 20 ml.
7
Tabung reaksi

Tempat untuk mereaksikan dua/ lebih senyawa.

8
Gelas Ukur




Untuk mengukur volume bahan yang akan diuji.
9
Gunting






Untuk memotong/ menyobek bahan (minyak ikan).

7



1.5 gram Minyak Ikan


Bahan penelitian pada Praktikum Uji Lemak/ minyak.
8




NaOH metanoat


Bahan penelitian pada Praktikum Uji Lemak/ minyak.
9
Indikatir Penopillin (PP)



Bahan penelitian pada Praktikum Uji Lemak/ minyak.
10
HCl 0,5 N






Bahan penelitian pada Praktikum Uji Lemak/ minyak.





















3.4. Skema Kerja
3.4.1. Menetukan bilangan penyabunan

timbang minyak ikan sebanyak 1,5 gr ;
masukan ke dalam elenmeyer;
tambahkan NaOH sebanyak 20 tetes menggunakan pipet tetes;
panaskan diatas kompor listrik selama 5 menit sambil diaduk menggunakan kaca pengaduk;
(dengan melakukan pengadukan pada saat pemansan larutan maka akan didapat kelaruatan/ reaksi kimia yang lebih cepat ketimbang tnpa dilakukan pegadukan.)
dinginkan kemudian masukan indicator PP sebanyak 2 tetes menggunakan pipet tetes kedalam elenmeyer;
(penambahan senyawa PP adalah sebagai indicator dalam proses titrasi,)
masukan HCl 0,5 N kedalam titran sebanyak 20 ml;
elenmeyer diletakan tepat di bawah titran
sambil kran titran dibuka perlahan biarkan tetesan HCl 0,5 N keluar elenmeyer digiyang-goyangkan sampai warna larutan pada elenmeyer berubah mejadi bening.
catat Volume HCl yang keluar sebagai “V1”.
Lakukan langkah di atas tanpa menggunakan minyak ikan. Kemudian catat volume HCl yang kelaur sebagai V2.
Setelah didapat V1 dan V2 kemudian lakukan penghitungan bilangan penyabunan dengan menggunakan rumus







3.4.2. Menetukan bilangan asam

timbang minyak ikan sebanyak 4 gr ;
masukan ke dalam elenmeyer;
tambahkan etanol sebanyak 20 tetes menggunakan pipet tetes;
panaskan diatas kompor listrik selama 5 menit sambil diaduk menggunakan kaca pengaduk;
(dengan melakukan pengadukan pada saat pemansan larutan maka akan didapat kelaruatan/ reaksi kimia yang lebih cepat ketimbang tnpa dilakukan pegadukan.)
dinginkan kemudian masukan indicator PP sebanyak 2 tetes menggunakan pipet tetes kedalam elenmeyer;
masukan NaOH 0,1 N kedalam titran sebanyak 20 ml;
(penambahan senyawa PP adalah sebagai indicator dalam proses titrasi,)
elenmeyer diletakan tepat di bawah titran
sambil kran titran dibuka perlahan biarkan tetesan NaOH 0,1 N keluar elenmeyer digiyang-goyangkan sampai warna larutan pada elenmeyer berubah mejadi bening.
catat Volume NaoOH yang keluar sebagai “V1”.
Lakukan langkah di atas tanpa menggunakan minyak ikan. Kemudian catat volume HCl yang kelaur sebagai V2.
Setelah didapat V1 dan V2 kemudian lakukan penghitungan bilangan penyabunan dengan menggunakan rumus








3.4.3. Uji kelarutan lemak/ minyak

Siapkan 3 buah tabung reaksi ;
Masukan alcohol pada tabung ke-1, air pada tabung ke-2, dan NaCo3 pada tabung ke-3 masih masing 20 tetes dengan menggunakan pipet tetes;
Masukan minyak ikan ke dalam setiap tabung reaksi sebanyak 1 tetes menggunakan pipet tetes;
Kocok-kocok selama 1 menit;
(dengan melakukan pengocokan ini uji kelarutan semakin sempurna karena semua senyawa yang terdapat dalam tabung akan saling bereaksi satu sama lain)
Biarkan selama 5 menit;
(dengan mendiamkan selama 5 menit, dimaksudkan untuk mendapatkan hasil akhir apakah terjadi kelarutan atau tidak).
Kemudian bandingkan dari setiap tabung reaksi. Tentukan kelarutannya.















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Menentukan Bilangan Penyabunan
Setelah melakukan beberapa langkah didapat hasil sebagai berikut:
V1 (HCl) = 7.4 ml
V2 (HCl) = 6,4 ml
BM NaOH = 40
N HCl = 0,5
Berat minyak = 1,5 gram

Dengan menggunakan rumus



Didapatkan hasil penghitungan sebagai berikut
(6,4 – 7,4) x 0,5 x 40
1,5
= -13,33

Menentukan Bilangan Asam
Setelah melakukan beberapa langkah didapat hasil sebagai berikut:
V1 (HCl) = 3.9 ml
V2 (HCl) = 1,5 ml
BM NaOH = 40
N etanol = 0,1
Berat minyak = 4 gram

Dengan menggunakan rumus



Didapatkan hasil penghitungan sebagai berikut
(1,5 – 3,9) x 0,1 x 40
4
= -2,4

Uji Kelarutan Minyak dan Lemak

Setelah melakukan beberapa langkah didapat hasil sebagai berikut:
No Tabung Reaksi
Larutan
Hasil Pengamatan
1
Alkohol dan minyak ikan
Larut sebagaian (++) masih terlihat ada pemisahan antara alcohol dengan minyak ikan.
2
Air dan minyak ikan
Tidak sama sekali terjadi kelarut terlihat jelas ada gelembung gelembung minyak ikan.
3
Na2CO3
Terjadi kelarutan yang sempurana (+++) larutan menjadi koloid tidak terlihat ada pemisahan/ gelembung minyak seperti pada tabung ke-1 dan ke- 2.







Pembahasan
Menentukan Bilangan Penyabunan

Setelah melakukan langkah-langkah dalam praktikum ini, antara lain dengan mencampuran minyak ikan sebanyak 4 gram dengan etanol sebanyak 4 tetes di dalam Erlenmeyer kemudian dipanaskan setelah itu dilakukan titrasi dengan menggunakan NaOH didapat nilai titrasi sebagai V1 sebanyak 7.4 ml dan V2nya 6,4 ml. maka dengan mengunakan rumus



Didapatkan hasil penghitungan sebagai berikut
(6,4 – 7,4) x 0,5 x 40
1,5
= -13,33
Berarti bilangan penyabunan atau jumlah mg KOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan 1 g lemak bernilai negatif (-13.33) dimana penyabunan itu sendiri didefinisikan (Hart, 2003) reaksi yang terjadi karena adanya proses pendidihan minyak/ lemak dengan senyawa alkil kemudian dilakukan pengasaman larutan yang dihasilkan yang kemudian akan didapa gliserol dan campuran asam lemak.









Menentukan Bilangan Asam

Setelah melakukan beberapa langkah antara lain dengan mencampurkan 4 gram minyak ikan dengan etanol sebanyak 20 tetes di dalam erlenmeyer serta dipanaskan diatas kompor listrik selama lima menit dan setelah dingin dilakukan titrasi dengan hasil 3.9 ml volume HCl yang keluar sebagai V1. Dan dengan cara yang sama tetapi tanpa penambahan minyak ikan didapat hasil titrasi sebagai V2 sebanyak 1,5 ml. setelah didapt V1 dan V2 kemudian dilakukan penghitungan bilangan asam dengan menggunakan rumus



Didapatkan hasil penghitungan sebagai berikut
(1,5 – 3,9) x 0,1 x 40
4
= -2,4
Berarti bilangan asam yang diperoleh dari proses penyabunan pada percobaan dengan menggunakan bahan 4 gram minyak ikan, dan etanol 20 tetes kemudian dilakukan pemanasan dan titrasi dalah bernilai negative yakni (-2,4). Dimana asam lemak itu sendiri adalah asam yang diperoleh dari porses penyabunan lemak/ minyak dengan senyawa alkil.










Uji Kelarutan Minyak dan Lemak

Pada percobaan diatas, semua bahan diuji secara organoleptis yaitu uji yang meliputi panca indera, dalam hal ini adalah penglihatan. Pada uji kelarutan minyak ikan dengan air, saat minyak ikan ditambahkan sebanyak 1 tetes pada aquades (Tb. 2) minyak tidak bisa laruta dalam air karena air adalah senyawa polar, sementara minyak senyawa non polar.

Pada uji kelarutan minyak ikan dengan alkohol, saat minyak ikan ditambahkan sebanyak 1 tetes pada alcohol terjadi kelarutan tetapi tidak sempurna masih terlihat pemisahan antara minyak ikan dengan alkokoh hal ini disebabkan karena alcohol (ROH)/ (CH2OH) “R” adalah gugus alkil masih memiliki kesamaan rumus kimia dengan air (H2O). dimana pada tabung 2 (air dengan minyak) tidak terjadi kelarutan.

Sementara pada uji kelarutan minyak ikan dengan etanol (CH3CH2OH) terjadi kelarutan sempurna dibuktikan dengan terlihatnya larutan yang koloid tidak terilihat ada pemisahan. Hal ini dikarenakan etanol merupakan zat pelarut yang baik. alasan selanjutnya terlihat dari rimus kimiannya terdapat du gugus alkil (etil alcohol) sehingga apa bila terjadi reaksi gugus alkil yangpaling luar lebih mudah untuk lepas sehingga terjadila ikatan kimia.

     







BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan peraktikum biokimia dapat disimpulkan bahwa lemak atau minyak ialah suatu ester asam lemak dengan gliserol dan gliserol adalah suatu trihidoksi alcohol.
Dengan menggunakan rumus dibawah ini, kita bisa mengetahui bahwa melakukan penyabunan 1 gram minyak/ lemak dibutuhkan sekian gram KOH yang dibutuhkan.



Kemudian minyak atau lemak tidak bisa laruta dalam air karena air adalah senyawa polar, sementara minyak senyawa non polar, serta minyak/ lemak dapat larut apabila dicampurkan dengan senyawa etanol.
5.2. Saran
Diharapkan untuk pelaksanaan paktikum selanjutnya praktikan lebih mempersiapkan dalam penguasaan konsep raktikum, alat, serta bahan yang diperlukan dalam praktimun.






BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
Hart, Harold. (2003) Kimia Organik Suatau Kulaih Singkat. Erlangga: Jakarta
Keenan, Kleinfelter, Wood. (1992). Kimia Untuk Universitas Jilid 2, Erlangga: Jakarta.
Mastjah, Sabirin, dkk. (1993). Kimia organik Dasar I. Departemen P&K: Yogyakarta.
Rawn. J. D. 1989. Biochemistry. Carolina : Neil Patterson Publisher
Riduan, S. (1990). Kimia Organik. Binarupa Aksara: Jakarta.
Sastrohamidjojo, Hardjono. (2001). Kimia Dasar. Gadjah Mada Unuversity Press: Yogyakarta.
Willbraham dan Matta. (1992). Kimia Organik dan Hayati. ITB: Bandung.
Winarno, F. G. 1991. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.
http://smk3ae.wordpress.com/2008/07/17/minyak-dan-lemak/
http://one.indoskripsi.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/asam-lemak/




BAB VII
LAMPIRAN
Pertanyaan
1. Sebutkan dan gambarkan struktur kimia asam lemak jenuh dan tidak jenuh !
Jawab

Nama

Rumus Kimia

Lemak Jenuh



Butirat

CH3(CH2)2CO2H

Palmitat

CH3(CH2)14CO2H

Stearat

CH3(CH2)16 CO2H
Lemak tak Jenuh




Palmitoleat
CH3(CH2)5CH=CH(CH2)7CO2


Oleat

CH3(CH2)7CH=CH(CH2)7CO2H


Bagaimana cara penamaan asam lemak tidak jenuh ?
jawab
Dalam cara penamaan asam lemak tidak jenuh selalu berakhiran enoat, contoh : asam oktadesenoat (asam oleat), asam oktadekadienoat (asam linoleat).




Tuliskan reaksi antara minyak/lemak dengan KOH !
Jawab
O
CH2OC- C3H7 CH2-OH
O
CHOC-C3H7 + 3KOH CH-OH + 3C3H7-C-OK
O
CH2OC-C3H7 CH2-OH
Tributrin Gliserol K-Butirat

0 komentar: