Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out
LAPORAN
PRAKTIKUM PLANKTONOLOGI
“IDENTIFIKSI PITOPLANKTON DAN ZOOPLANKTON”

OLEH :
AGUS NURUL K.

K2D008005

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULATAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2009



BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia sebagi Negara kepulauan yang memiliki indeks keanekaragaman yang sangat tinggi pada dasarnya memiliki peran penting dalam upaya peningkatan tarap hidup rakyat indonesai. Namun sampai saat ini potensi tersebut belum bisa sepenuhnya dirasakan dikarenakan tidak dalanya kesinambunagn atara keberlimpahan sumberdaya alam yang dimiliki dengan sumberdaya manusi yang bisa menciptakan terobosan baru baik pada bidang kesehatah, pangan, industry, maupun energy.
Meskipun dilaut terdapat kehidupan yang sangat beragam, tetapi bisanya biota laut hanya dikelompokkan kedalam tiga kategori utama yakni: plankton, nekton, dan bentos. Pengelompokkan ini tidak ada kaitanya dengan jenis menurut klasifikasi ilmiah ,ukuran atau mereka tumbuh-tumbuhan dan hewan, tetapi hanya didasarkan pada kebiasaan hidup mereka secara umum.
Plankton adalah biota yang hidup mengapung, menghanyut berenang sangat lemah. plankton terdiri dari fitoplankton dan zooplankton. Holoplankton adalah organism akuatik yang seluruh daur hidupnya bersifat planktonik.
Romimohtarto dan Juwana (1999) menyatakan bahwa plankton merupakan biota di laut yang teramat beranekaragam dan terpadat di laut, menyusul kemudian benthos. Banyak biota laut yang di alam daur hidupnya menempuh lebih dari satu cara hidup. Pada saat mereka menjadi larva atau juwana (juvenil), mereka hidup sebagai plankton.
Plankton mempunyai peranan yang sangat penting di dalam ekosistem bahari. Salah satunya yaitu fitoplankton yang berperan sebagai produsen primer yang dapat mensuplai kebutuhan zat organik di laut, dan zooplankton yang berfungsi sebagai konsumen primer yang menghubungkan produser primer dengan tingkat pakan yang lebih tinggi yaitu hewan-hewan besar (Arinardi, dkk, 1997)
Masih banyak manfaat plankton selain yang disebutkan di atas antara lain sebagai penangan limbah , sebagai bahan makanan, sebagai indeks kesuburan, dll. Selain bermanfaat plankton juga dapat merugikan baik bagi manusia maupun bagi biota lainnya, misalnya adanya red tide oleh beberapa jenis plankton yang sangat membahayakan.
Oleh karena beragamnya jenis planton baik fitoplankton maupun zooplankton, perlu dipelajari berbagai jenis plankton pada berbagai macam perairan atau habitatnya.

1.2. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan diadakannya praktikum pada mata kuliah Planktonologi serta dengan menyusun laporan hasil praktikum diharapkan mahasiswa Ilmu Kelautan mampu :
- Mengetahui ciri-ciri dari beberapa jenis plankton sehingga dapat membedakan antara fitoplankton dan zooplankton.

- Dapat mengidentifikasi berdasarkan ciri-ciri jenis plankton (fitoplankton ataupun zooplankton).
- Dapat mengetahui bagaimana metode yang digunakan untuk mengidentifikasi plankton dengan menggunakan mikroskop.

- Mengetahui klasifikasi dan taksonomi dari fitoplankton maupun zooplankton.


BAB II
MATERI DAN METODE

2.1 Materi
Bahan yang dibutukan pada praktikum identifikasi pitoplankton dan zooplankton pada matakuliah planktonologi adalah sempel plankton yang telah diawetkan.
2.2. Metode
Kemudian disamping praktikan menyediakan bahan atau sempel plankton, dibutukan pula alat untuk melakukan praktikum pada matakuliah planktonologi ini, adalah :
1. Sarung tangan
2. Masker
3. Tissue
4. kertas folio
5. alat tulis
6. Mikroskop
7. Kaca Preparat
8. Buku Identifikasi
9. Pipet Tetes
10. Gelas Beker
11. Deagles
12. Aquades





2.3. Nama dan kegunaan
No Nama Kegunaan
1 Sempel plankton Bahan yang digunakand alam identifikasi pitoplnktond an zooplankton.
2 Aquades
Aquades adalah larutan yang digunakan untuk mencuci dari kaca preparat yang sudah digunakan untuk mengidentifikasi plankton.

3 Sarung Tangan Melindungi bagian tangan dari zat yang membahayakan kulit.

4 Masker

Melindungi bagian hidung mengurangi bau dari sempel.
5 Gelas beker

Tempat untuk menaruh sampel plankton yang akan dijadikan sebagai bahan praktikum.

6



Tissue
Tissue digunakan sebagai bahan untuk mengeringkan atau membersihkan kaca preparat yang sudah dicuci dengan aquades
7 kertas folio
Merupakan sarana untuk memenuhi dari praktikum ini yaitu untuk membuat laporan sementara dari hasil praktikum planktonologi

8 alat tulis
Merupakan alat yang digunakan untuk menunjang lancarnya dan rapinya dari pembuatan laporan sementara dari praktikum planktonologi.
9 Mikroskop
Mikroskop adalah suatu benda yang berguna untuk memberikan bayangan yang diperbesar dari benda-benda yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang. Mikroskop terdiri dari beberapa bagian yang memiliki fungsi tersendiri untuk mengidentifikasi dari sampel plankton yang telah ditaruh dikaca preparat dengan dilapisi deagles.



10

Kaca Preparat
Merupakan tempat ditaruhnya sampel plankton yang telah diambil dengan menggunakan pipet tetes,yang kemudian sampel tersebut diteteskan diatasnya yang kemudian diamati dengan menggunakan mikroskop.

11 Buku Identifikasi
Merupakan media untuk menentukan dari jenis plankton yang sudah ditemukan dengan mikroskop.

12 Pipet Tetes
merupakan alat yang digunakan untuk mengambil sampel dari plankton yang terdapat dalam gelas beker,dan kemudian diteteskan keatas kaca preparat.

13 Deagles
Untuk mempermudah dalam proses pengamatan sampel,dan untuk menekan sampel tersebut agar tidak tercecer kesekitar kaca preparat.

2.3. Pelaksanaan Praktikum
Praktikum Identifikasi phytoplankton dilakukan pada
Hari, tanggal : Senin, 4 Mei 2009
Waktu : 13.20 - 15.30
Tempat : Laboratorium Ilmu Kelautan UNDIP Tembalang.
Dan praktikum identifikasi zooplankton dilaksanakan pada
Hari, tanggal : Senin, 25 Mei 2009
Waktu : 15.30 - 16.30
Tempat : Laboratorium Ilmu Kelautan UNDIP Tembalang.

Terdapat beberapa langkah prosedur yang haus praktikan lakukan dalam melaksanakan praktikum identifikasi plankton pada matakuliah Planktonoligi. Prosedur tersebut adalah :
2.3.1 Proses Pengolahan Sampel
a. Prosedur Pengambilan Sampel
Pengambilan sempel bisanya dengan menggunakan “plankton nets” atau jaring plankton. Plankton nets ini dibagi kedalam beberapa bentuk atau model, tetapi pada dasarnya semua tersusun atas kerucut yang panjang sebagai mata jala yang halus. Dengan mulut jaring biasanya berdiameter antara 50 - 100 cm dan terbuka bagian atasnya oleh lingkaran logam yang kuat untuk mengikatkan tiga kali kekang (Tait, 1981).
Mata jaring pada plankton nets terbuat dari kain yang digunakan untuk menyaring berbagai ukuran butir terigu (Bolting Silk Cloth) atau nilon. Bolting silk ini terbuat dari benang sutera halus yang mata jaringnya dirancang untuk tidak mudah berubah. Jaring berfungsi untuk menyaring air serta plankton yang berada di dalamnya. Oleh karena plankton yang tertangkap sangat tergantung pada ukuran mata jaring, maka ukuran mata jaring yang digunakan harus disesuaikan dengan jenis atau ukuran plankton yang diamati. Biasanya jarng yang digunakan untuk mengambil zooplankton diameternya lebih besar/nomor jaringnya lebih kecil, sedangkan fitoplankton digunakan jaring dengan diameter yang lebih kecil/nomor jaringnya besar. Karena semakin besar nomor jaring diameternya semakin kecil. (Arinardi, dkk, 1997).
Setelah plankton disaring dengan jaring bucket atau penampungnya dikeluarkan dan segera dimasukkan dalam botol untuk diawetkan. Bahan pengawet yang digunakan biasanya formalin 4 % (hasil pengenceran formalinn 40 % dengan air). Kemudian botol tersebut diberi label yang bertuliskan: nomor stasiun, tanggal dan waktu pengambilan, posisi stasiun, metode pengambilan, kedalaman, dan lain-lain untuk menghindarkan dari kekeliruan (Arinardi, dkk, 1997).
Cara pengambilan sampel plankton juga sangat bervariasi tergantung tujuan yang diinginkan. Biasanya metode sampling yang digunakan antara lain: mendatar (horizontal),menegak (vertikal), miring (oblique). (Arinardi, dkk, 1997)
Teknik pengambilan dengan botol dan jarring. jaring yang akan digunakan untuk pengambilan sampel fitoplankton berukuran 20 µm dan untuk ukuran dari jaring zooplankton 150-300µm pengukuran air tersaring pada metode penarikan jarring plankton dilakukan dengan flowmeter.
b. Prosedur Pengamatan Plankton
Setelah dikalukan pengambilan sempel plankton dan pengawetan dengan menggunakan formalin dengan kadar konsentrsi sekitar 4%, lankah selanjutnya dalah sempel plankton yang telah diawetkan tersebut diuangkan ke dalam glas beker. Kemudian diamkan beberapa saat untuk mengendapkan kotoran yang tersisa didalam larutan sempel tersebut. Kemudian dengan menggunankan pipet tetes, ambil sempel lalu tuangkan kedala kaca preparat sebanyak satu tetes hindari terbentuknya gelembung pada kaca preparat tersebut untuk mempermudah langkah identifikasi di bawah mikroskop. Selanjutnya letakan kaca preparat yang berisi sempel plankton tersebut letakan di bawah mikroskop. Atur pencahayaan dan pembesaran pada mikroskop. Lankah selanjutnya dalah mengidentifikasian sempel plankton dengan menggunakan refferensi buku dentifikasi yang sudah disediakan.

2.3.2 Proses Identifikasi Sampel
Pada proses identifikasi langkah yang dilakukan antaralain dengan meletakan kaca preparat yang telah terisi sempel plankton pada panel yang tersedia dibawah kaca pembesar mikroskop. Ataur pencahayaan dengan menekan panel on/off yang terdapat dibagian samping kiri mikroskop. Selanjutnya adalah mengatur skala pembesaran pada skala 100x. atur focus pembesaran mikroskop dengan mengeser pelan panel pengatur halus dan kasar mikroskop. Geser pelan kaca preparat dengan memutar arah panel pada mikroskop untuk menemukan sempel plankton. Setelah sempel ditemukan, atur ulang focus pembesaran untuk mendapatkan gambar sempel plankton yang lebih jelas. Barulah proses identifikasi dimulian dengan meggambarkan sempel plankton yang terlihat pada kertas polio dan menggunakan buku refferensi identifikasi plankton.

2.3.3 Media Identifikasi
Media yang dibutuhkan dalam proses identifikasi plankton hasil pengamatan sempel dibawah mikroskop adalah buku indentifikasi sebagai bahan refferensi. Terdapat banyak buku yang memuat tentang identifikasi plankton salah satunya yang praktikan pakai pada praktikum ini adalah buku karangan (Bakken, 1992) dengan judul buku BIOLOGI LAUT. Dengan menggunakan buku refferensi ini akan mempermudah proses identifikasi sempel baik pitoplankton maupun zooplankton yang ditemukan pada saat pengamatan sempel.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
Setelah melakukan pengamatan sempel plankton pada praktikum matakuliah planktonologi didapat hasil sebagai berikut:
Tabel Jenis Fitoplankton
No Jenis Fitoplankton Taksonominya
1 Nitzchia
Kingdom : Plantae
Divisi : Chrysophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo : Nitzchiales
Family : Nitchiaceae
Genus : Nitchia
Spesies : Nitchia sp (Nybakken,1992)
2 Tetraselmis Sp.
Kingdom :Plantae
Divisi : Chlorophyta
Kelas : Prasinophyceae
Ordo : Pyraminonadales
Genus : Tetraselmis Sp.
(Nybakken,1992)
3 Chlorella

Kingdom :Plantae
Divisi : Chlorophyta
Kelas : Chlorophyceae
Ordo : Chlorococcales
Family : Chlorolacea
Genus : Chlorella
(Nybakken,1992)
4 Cosenodiscus
Kingdom :Plantae
Divisi :Chrysophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo :Coscinodiscales
Family : Coscinodisceae
Genus : Coscinodiscus
Spesies : Coscinodiscus gron
(Nybakken,1992)
5 keletonem Contatum
Kingdom : Plantae
Divisi : Bacillariophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo : Bacillariales
Genus : Skeletonem
Spesies : Skeletonem Contatum
(Nybakken,1992)
6 Spirulina
Kingdom : Plantae
Divisi : Cyanophyta
Kelas : Chianophyceae
Ordo : Nostocales
Family : Oscilatoriaceae
Genus : Spirulina

7 Navicula
Kingdom :Plantae
Divisi : Chrysophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo : Pennales
Family :Bacillariaceae
Genus :Navicula
Spesies :Navicula sp
(Nybakken,1992)
8 Pleurasigma sp
Kingdom :Plantae
Divisi : Chrysophyta
Kelas :Bacillariophyceae
Ordo :Rhizosalencales
Family : Rhizosalenceae
Genus : Rhizosalenia
Spesies :Pleurosigma sp
(Nybakken,1992)
9 Chaetoceros
Kingdom : Plntae
Divisi : Bachillariophyta
Kelas : Bachillariophyceae
Ordo : Bacialliares
Famili : Chaetoceraceae
Genus : Chaetoceros
(Nybakken,1992)

10
Sceletoceros digymus

Kingdom : Plantae
Divisi : Chrysophyta
Kelas : Chrysophyceae
Ordo : Pennales
Genus : Sceletonema
Spesies : Sceletoceros digymus
(Nybakken,1992)
11 Chaetoceras
Kingdom :Plantae
Divisi : chrysophita
Kelas : Bacillaryophiceae
Ordo : Centrales
Family : Chaetocerotaceae
Genus : Chaetoceros
Spesies : Chaetoceros atlanticus, Chaetoceros discaeta
(Nybakken,1992)
12 Phaedactylum tricornutum
Kingdom : Plantae
Divisi :Bacillariophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo : Bacillariales
Family : Cymbaellaceae
Genus : Phaedactylum
Spesies : Phaedactylum tricornutum
(Nybakken,1992)
13 Alexandrum Sp.
Kingdom : Plantae
Divisi :Dinoflagellata
Kelas : Dinoficeae
Ordo : Gonyaularaes
Genus : Alexandrum
Spesies : Alexandrum Sp.
(Nybakken,1992)
14 Thalassiothrix
Kingdom :Plantae
Divisi : Chrysophyta
Kelas : Chrysophyceae
Ordo : Chrysophycales
Family :Thalasioceae
Genus : Thalasiosira
Spesies : Thalasiothrix sp
(Nybakken,1992)
15 Bachionus plicailis
Kingdom : Plantae
Divisi :Trochellinthes
Kelas : Rotatiera
Ordo : Monogonama
Genus : Ploima
Spesies : Bachionus plicailis
(Nybakken,1992)


Tabel Jenis Zooplankton
No Jenis Zooplankton Taksonominya
1 Artemia
Phylum : Animalia
Class : Athoropoda
Ordo : Anostracia
Family : Anemide
Genus : Artemia
(Wikipedia Indonesia)
2. Acartia Tonsa
Phylum : Arthropoda
Class : Maxxilopoda
Ordo : Calanoida
Family : Acartiidae
Genus : Acartia
(Wikipedia Indonesia)

3 Bivalvia
Phylum : Moluska
Class : Bivalvia
Ordo : Nuculoida
Family : Nuculoidae
Genus :
(Wikipedia Indonesia)

4 Penilia

Phylum : Arthropoda
Class : Branchiopoda
Ordo : Phyllopoda
Family : Sididae
Genus : Penilia
Spesies : Penilia Avirostris
(Wikipedia Indonesia)
5 Callanus
Phylum : Arthophoda
Class : Crustacea
Ordo : Calaneida
Family : Capepoda
Genus : Callanus
Spesies : Callanus sp
(Wikipedia Indonesia)
7 Acetes sp
Kingdom : Animalia
Divisi : Arthtropoda
Kelas : Crustacea
Ordo : Amphipoda
Family : Amphipodaceae
Genus : Acetes sp
Spesies : Acetes sp
(Wikipedia Indonesia)
8 Melanoides sp
Phylum : Moluska
Class : Gastropoda
Ordo : Neotaenioglossa
Family : Thiaridae
Genus : Melanoides
Spesies : Melanoides sp
(Wikipedia Indonesia)
9 Acartia
Phylum : Arthropoda
Class : Crustacea
Ordo : Copepoda
Family : Acartiidae
Genus : Acartia
Spesies : Acartia
(Wikipedia Indonesia)
10 Balanus Amphitrite
Phylum : Arthropoda
Class : Maxillopoda
Ordo : Sessilia
Family : Balanidae
Genus : Balanus Da Costa
Spesies : Balanus Amphitrite
(Wikipedia Indonesia)
15 Oikopleura sp
Phylum : Chordata
Class : Appendicularia
Ordo : Copelata
Family : Oikopleuridae
Genus : Oikopleura
Spesies : Oikopleura sp
(Wikipedia Indonesia)

3.2. Pembahasan
3.2.1. Phytoplankton
Fitoplankton atau plankton nabati adalah plankton tumbuhan yang berukuran microscopis, yang hidup dengan pergerakan yang lemah dan sangat dipengaruhi oleh pergerakan arus sekecil sekalipun. Jenis plankton ini dapat berfotosintesis dan merupakan pemasok energi terbesar dalam ekosistem laut dan juga berperan sebagai produser primer dalam jaring – jaring makanan . Pada umumnya fitoplankton di laut didomonasi oleh diatom ( bacillariophiceae ), diniflagellata, coccolithophore dan criptomonads, namun yang sering terjaring adalah diatom dan diniflagellata sebab mempunyai ukuran yang lebih besar jika dibandingkan dengan fitoplankton yang lain.
Pertumbuhan fitoplankton sangat tergentung pada kondisi perairan, sinar matahari dan kandungan nutrient yang ada di perairan itu. Karena sinar matahari umumnya selalu tersedia di daerah tropis seperti Indonesia, maka pada perairan dengan kandungan nutrient tinggi dapat mengakibatkan terjadinya ledakan pertumbuhan fitiplankton atau sering disebut dengan bloming ftoplankton. Secara alami kepadatan fitoplankton dapat dikontrol oleh organisma yang memakan fitoplankton seperti zooplankton; kompetisi antar sesama alga; dan bisa punah akibat kehadiran parasit seperti: protozoa, kapang, bakteri atau virus.
Meskipun fitoplankton membentuk sejumlah besar biomassa di laut, kelompok ini hanya diwakili oleh beberapa filum saja yaitu Chrysophyta (alga kuning hijau), yang meliputi Diatom dan Kokolitofor (Cocolithophore), alga biru hijau (Cyanophyta), alga coklat (Phaeophyta) dan satu kelompok besar dari Dinoflagellata (Pyrophyta).
Di sini kelas Diatom (Bacillariophyceae) dan Dinoflagellata (Dinophyceae) merupakan anggota utama fitoplankton yang terdapat di seluruh perairan laut, baik perairan pantai maupun perairan oseanik, sedangkan Kokolitofor (Haptophyceae) lebih sering hidup di perairan oseanik, Crytomonad (Cryptophyceae) di perairan pantai dan gangang hijau (Chlorophyceae) sering melimpah di perairan tropis. Ganggang lain (termasuk Silicoflagellata, Prasinomonad, Euglenoid, dan Chloromonad) kadang-kadang sangat banyak di pantai. (Arinardi, dkk, 1997).
Jenis pitoplankton yang ditemaukan pada saat praktikum identifikasi adalah sebagai berikut dengan karakteristik dan klasifikasinya.
1. Nitzchia
Nitzchia
Kingdom : Plantae
Divisi : Chrysophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo : Nitzchiales
Family : Nitchiaceae
Genus : Nitchia
Spesies : Nitchia sp (Nybakken,1992)
Karakteristik
• celah raphe memiliki barisan pori – pori bulat yang mencolok
• valve memiliki sayap luar dan berlunas
• valve tidak punya central nodule sejati
• raphe dan valve tidak sigmoid
• kedua valve mempunyai raphe sejati

(Hutabarat,1985)

2. Tetraselmis Sp.
Tetraselmis Sp.
Kingdom :Plantae
Divisi : Chlorophyta
Kelas : Prasinophyceae
Ordo : Pyraminonadales
Genus : Tetraselmis Sp.
(Nybakken,1992)
Karakteristik
• Alga bersel tunggal, mempunyai empat buah flagella berwarna hijau
• Ukuran sel sekitar 7-12 mikron
• Klorofil merupakan figmen yang dominan sehingga ala ini berwarna hijau.
• Berkembangbiak cara aseksual dengan pembelahan sel, dan secara seksual dengan penyatuankloroflas dari gamet jantandan gamet betina.

(Hutabarat,1985)

3. Chlorella
Chlorella
Kingdom :Plantae
Divisi : Chlorophyta
Kelas : Chlorophyceae
Ordo : Chlorococcales
Family : Chlorolacea
Genus : Chlorella
(Nybakken,1992)

Karakteristik
• Bentuk sel bulat atau bulat telur.
• Merupakan alga bersel tunggal.
• Bersufat komposit sehingga dapat hidup dimana mana.
• Bereproduksi secara aseksual dengan pembelahan sel. Ada juga yang dengan pemisahan autospora dari induknya, diawali dengan pertumbuhan sel yangs angat besar.
(Hutabarat,1985)

4. Coscinodiscus gron
Cosenodiscus
Kingdom :Plantae
Divisi :Chrysophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo :Coscinodiscales
Family : Coscinodisceae
Genus : Coscinodiscus
Spesies : Coscinodiscus gron
(Nybakken,1992)



5. Skeletonem Contatum
keletonem Contatum
Kingdom : Plantae
Divisi : Bacillariophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo : Bacillariales
Genus : Skeletonem
Spesies : Skeletonem Contatum
(Nybakken,1992)
Karakteristik
• Teramasuk diatom merupakan alaga yang bersel tunggal.
• Dapat membentuk untaian rantai yang terdiri dari beberapa sel
• Sel berbentuk kotak dengan bagian atasnya merupakan epiteka dan bagian bawahnya hipoteka. Bagian hipotekamemiliki lubang lubang yang berbentuk khusus.
(Hutabarat,1985)

6. Spirulina
Spirulina
Kingdom : Plantae
Divisi : Cyanophyta
Kelas : Chianophyceae
Ordo : Nostocales
Family : Oscilatoriaceae
Genus : Spirulina

Karakteristik
• Berwarna hijau kebiruan.
• Selnya berkoloni membentuk filament terpilin menyerupai spiral.
• Selnya berbentuk silindris dengan dinding sel tipis.
(Hutabarat,1985)

7. Navicula sp
Navicula
Kingdom :Plantae
Divisi : Chrysophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo : Pennales
Family :Bacillariaceae
Genus :Navicula
Spesies :Navicula sp
(Nybakken,1992)

Ganggang ini dikenal sebagai diatomae atau ganggang kersik karena dinding sel tubuhnya mengandung zat kersik. Kersik merupakan komponen penting dalam plankton. Navicula sp hidup di air tawar dan di laut.
Tubuh Navicula sp terdiri atas dua bagian yaitu kotak (hipoteka) dan tutup (epiteka). Di antara kotak dan tutup terdapat celah yang disebut rafe.
Perkembangbiakan Navicula sp:
• Perkembangbiakan vegetatif Navicula dengan membelah diri. Setiap inti diatomae membelah menjadi dua, diikuti pembagian sitoplasma menjadi dua bagian. Selanjutnya, dinding sel Navicula memisah menjadi kotak dan tutup. Pada sel anakan, baik kotak maupun tutup akan berfungsi menjadi tutup, dan masing-masing akan membentuk kotak baru. Dengan demikian setiap sel anakan yang berasal dari kotak akan mempunyai ukuran lebih kecil daripada sel asalnya. Peristiwa ini berlangsung berulang kali.
• Perkembangbiakan generatif Navicula berlangsung dengan konjugasi. Bila ukuran tubuh Navicula tidak memungkinkan untuk mengadakan pembelahan lagi, inti selnya akan mengalami meiosis dan menghasilkan gamet. Gamet itu kemudian akan meninggalkan sel dan setelah terjadi pembuahan di dalam air akan menghasilkan zigot. Zigot selanjutnya tumbuh menjadi sel Navicula baru dan membentuk tutup dan kotak baru.
(Wikipedia Indonesia)

8. Rhizosalenia
Pleurasigma sp
Kingdom :Plantae
Divisi : Chrysophyta
Kelas :Bacillariophyceae
Ordo :Rhizosalencales
Family : Rhizosalenceae
Genus : Rhizosalenia
Spesies :Pleurosigma sp
(Nybakken,1992)
Cirri ciri
• Merupakan diatom besar.
• ada dalam bentuk aciform dengan kuat silicic shell.
• Merupakan phytoplankton berSel yang tunggal.
• Mereka memiliki bentuk panjang tipis sticks, di sepanjang lintas bagian. Mereka bervariasi diameter 3-50 μ, biasanya 5-12 μ.
• Panjang (tinggi) dari sel-sel kecil dari diameter mencapai 1000 μ, orang-orang besar diameter bervariasi dari 238-417 μ.
(Hutabarat,1985)




9. Chaetoceros
Chaetoceros
Kingdom : Plntae
Divisi : Bachillariophyta
Kelas : Bachillariophyceae
Ordo : Bacialliares
Famili : Chaetoceraceae
Genus : Chaetoceros
(Nybakken,1992)
Karakteristik
• Ada yang berbentuk bulat ada pula yang berbentuk segi empat.
• Toleran terhadap suhu air yang tinggi.
• Berreproduksi secara seksual dan secara aseksual.
• Dinding sel terdiri dari silica.

(Hutabarat,1985)

10. Sceletoceros digymus

Sceletoceros digymus

Kingdom : Plantae
Divisi : Chrysophyta
Kelas : Chrysophyceae
Ordo : Pennales
Genus : Sceletonema
Spesies : Sceletoceros digymus
(Nybakken,1992)
Karakteristrik
Kelompok ini mempakan algae uniseluler yang memerlukan cahaya matahari untuk proses fotosintesisnya. Sel diatomnya mempunyai kemampuan menghasilkan skeleton ekstemal silika (frustule). Bentuknya seperti kotak dengan cytoplasma yang memenuhi isi sel. Pada sel tersebut terdapat katup besar yang menutup katup yang lebih kecil. Bentuk katupnya sangat bervariasi, ada yang sirkulasi, eliptical, polygonal, kubus, segitiga atau tidak beraturan.
Reproduksinya adalah dengan pembelahan sel, yaitu protoplasma terbagi menjadi dua bagian yang disebut epitheca dan hypotheca. Masing-masing bagian dari protoplasma tersebut membentuk epitheca dan hypotheca baru. Dari pembelahan sel tersebut akan dihasilkan 2 sel yang ukurannya lebih kecil daripada sel
(hobiikan.blogspot.com)

11. Chaetoceros
Chaetoceras atlanticus
Kingdom :Plantae
Divisi : chrysophita
Kelas : Bacillaryophiceae
Ordo : Centrales
Family : Chaetocerotaceae
Genus : Chaetoceros
Spesies : Chaetoceros atlanticus, Chaetoceros discaeta
(Nybakken,1992)


12. Phaedactylum tricornutum
Phaedactylum tricornutum
Kingdom : Plantae
Divisi :Bacillariophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo : Bacillariales
Family : Cymbaellaceae
Genus : Phaedactylum
Spesies : Phaedactylum tricornutum
(Nybakken,1992)
Karakteristik
• Berwarna coklat keemasan.
• Merupakan planktonebrseltunggal.
• Dinding sel terbuat dari silica.
• Memiliki bentuk yang bermacam macam
• Hidup di perairan yang bersuhu 90 – 250 C
• Berkembang biak dengan cara memberlah diri dengan proses sporalis.

(Hutabarat,1985)

13. Alexandrum Sp.
Alexandrum Sp.
Kingdom : Plantae
Divisi :Dinoflagellata
Kelas : Dinoficeae
Ordo : Gonyaularaes
Genus : Alexandrum
Spesies : Alexandrum Sp.
(Nybakken,1992)



14. Thalasiothrix sp
Thalassiothrix
Kingdom :Plantae
Divisi : Chrysophyta
Kelas : Chrysophyceae
Ordo : Chrysophycales
Family :Thalasioceae
Genus : Thalasiosira
Spesies : Thalasiothrix sp
(Nybakken,1992)

15. Bachionus plicailis
Bachionus plicailis
Kingdom : Plantae
Divisi :Trochellinthes
Kelas : Rotatiera
Ordo : Monogonama
Genus : Ploima
Spesies : Bachionus plicailis
(Nybakken,1992)

3.2.1.1. Phytoplankton sebagai produktivitas primer
Karena phytoplankton hidup terlebih dahulu di dunia ini, maka plankton ini dapat disebut betul-betul produsen yang primer. Produsen berarti “membuat”, dan dalam hal ini membuat bahan organic dari bahan anorganic (garam-garam dalam perairan), melalui fotosintesis. suatu proses fisiokimiawi dalam sel hidup, dengan bantuan klorofil dan menggunakan air (H2O), CO2 dan sinar matahari dalam bentuk energi kinetik bergelombang 0,4-0,8 mikron. Resultan proses ini digambarkan dalam persamaan:
H2O + CO2 + sinar matahari klorofil karbohidrat + O2
Menurut Le Gal (1988), produktivitas primer adalah suatu aktivitas biologi yang berkaitan dengandinamika fiksasinilai CO2 menjadi materi organic. Menurut Treguer (1986), produktivitas primer adalah suatu sintesis autotropik dari meteri organic, khususnya phytoplankton bagi daerah lautan.
Phytoplankton jika sudah ada, memang dapat hidup sendiri, artinya bisa hidup hanya dengan sinar matahari dan garam-garam yang dibutuhkan, dan bila garam-garam ini cukup banyak maka phytoplankton-cell berkembang biak cepat, dan merupakan makanan bagi zooplankton yang hidup sebagai primairy-consumer, yang artinya konsumen yang hidup terdahulu dan makan langsung produsen primer.

3.2.2. Zooplankton
Zooplankton adalah plankton yang terdiri dari binatang-binatang atau binatang-binatang yang hidup sebagai plankton. Zooplankton bersifat heterotropik (Rohmimohtarto, 1984). Sedangkan zooplankton secara umum adalah :
a. Zooplankton beranggotakan berbagai group termasuk didalamnya semua phyla fauna.
b. Zooplankton mempunyai berbagai sifat herbivora, carnivora, parasit atau symbionts.
c. Zooplankton memainkan peranan penting di lautan sebagai transfer energy dari produser primer ke ikan atau berbagai nekton yang lain.

Dilihat dari keragaman jenisnya, holoplankton karang beragam dibandingkan dengan meroplankton. Berbagai jenis larva dari berbagai biota di laut adalah meroplankton, larva-larva tersebut hampir mewakili semua jenis biota yang ada di laut, beberapa diantara adalah larva ikan yang disebut sebagai ichtyoplankton, larva dari Echinodermata, Polichaeta, larva udang Penaeid, larva Coelonterata dan beberapa larva lainnya. Larva-larva tersebut menghabiskan sebagian atau masa hidup biota tersebut secara keseluruhan (Nybakken, 1991).
Dari biota-biota diatas yang telah disebutkan, adapun ciri-cirinya dari :
a. Ichtyoplankton, yaitu :
 Larva-larva pada tingkat permulaan masih mempunyai kantung telur (yolk sacs).
 Larva-larva ikan tingkat tinggi mulai menunjukkan sifat-sifat dari ikan.
b. Larva Echinodermata, yaitu :
 Pada Asteroida, tangan-tangan yang sedang tumbuh dapat dilihat. Mereka tidak kaku.
 Pada Holothuria, hewan ini mempunyai bentuk yang khas. Panjang bisa mencapai 1 mm.
 Pada Ophiuorida, tangan-tangan mempunyai rangka yang membuat mereka ini menjadi kaku. Larva tingkat terakhir mempunyai tangan-tangan yang panjangnya bisa mencapai beberapa milimeter. Panjang berkisar antara 200-400 u.
 Pada Echinoida, bentuk tubuh sangat mirip dengan Ophiopluteus. Panjang berkisar antara 200-400 u atau lebih.
 Pada Crinoida, larva mempunyai bentuk seperti tong yang agak mirip dengan trochophore larva. Tubuh larva ini biasanya dikelilingi oleh beberapa berkas rambut getar (cilia).
c. Larva Polichaeta, yaitu :
 Larva tingkat permulaan adalah trocophore.
 Larva tingkat terakhir mempunyai ciri-ciri tubuh beruas-ruas, tubuh ditutupi oleh bulu-bulu yang khas, panjang berkisar antar 750 m sampai 3 mm.
d. Larva Coelonterata, yaitu :
 Pada Actinula larvae, ketika diawetkan berwarna kekuning-kuningan dan kabur. Ukuran diameter yang melintas tentakel biasanya berukuran 1-3 mm.
 Pada Ephyra larvae, bentuknya khas. Ukuran diameter sekitar 1-2 mm.
(Hutabarat & Evans, 1986)

Holoplankton diperairan diwakili oleh biota dari filum Protozoa, udang-udang kecil dari Euphaceae, dan beberapa marga lain dari Crustacea diantaranya Ostracoda dan Copepoda. Protozoa yang mendominasi di lautan ialah Foraminifera dan Radiolaria. Hal ini dapat dilihat pada dasar-dasar lautan dan batuan dengan adanya cangkang kalium karbonat yang berasal dari sekresi Foraminifora (Nybakken, 1991).
Kelompok biota lain yang paling mendominasi holoplankton adalah Copepoda dari kelas Crustracea disamping udang-udang kecil seperti Lucifer, Acetes, dan Euphausiid, biota kecil dari Ostacoda, Mystocarida dan Branchiopoda. Berbagai genus dari Copepoda banyak ditemukan di perairan mulai dari perairan dangkal sampai medium (Nybakken, 1991).
Secara umum di laut banyak dijumpai zooplankton kelas Crustacea. Adapun kelas Crustacea terbagi menjadi 8 ordo, yaitu :
a. Cladocera
b. Ostracoda
c. Copepoda
d. Cumacea
e. Sergestidae
f. Mysidacea
g. Amphipoda
h. Euphausida
(Hutabarat & Evans, 1986)

Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan ordo Copepoda lebih banyak dijumpai di laut. Sifat-sifat umum dari ordo ini adalah :
a. Ruas-ruas tampak jelas yang terbagi menjadi dua bagian utama yaitu metasome dan urosome. Metasome biasanya tampak lebih lebar daripada urosome.
b. Metasome terdiri dari 5 ruas.
c. Urosome biasanya mempunyai ruas yang berjumlah antara satu sampai lima.
d. Pada ruas pertama urosome terdapat lubang kemaluan dan pada ruas terakhir terdapat anus.
e. Ruas terakhir mempunyai penonjolan yang bercabang dua yang dinamakan furcal rami. Pada masing-masing cabang terdapat bulu-bulu (setae).
f. Ordo Copepoda ada 4 subordo, yaitu : Monstrilloida, Harpacticoida, Cyclopoida dan Calanoida.
(Hutabarat & Evans, 1986)

Klasfikasi dari ordo copeoda berikut beberapa contoh genus yang umum dijumpai, beserta karakteristiknya :
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Sub kelas : Copepoda
Ordo : Calanoid
Famili :
Genus : Temora
Spesies : T. lorgicornis
Karakteristik
1) Tubuh padat dan agak berbentuk bulat
2) Permukaan furcal rami panjang
3) Setae pendek dan langsing
4) Merupakan spesies yang umum diperairan pantai
5) Mempunyai 4 segmen metasome

Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Ordo : Eucopepoda
Famili : Calanoidea
Genus : Calanoid
Spesies : Calanoid sp
Karakteristik
- Mempunyai bentuk kepala yang meruncing bila dilihat dari sampiing atau atas
- Memiliki sepasang antenna
- Bentuk rami bercabang dua
- Terdapat 5 segmen metasome
- Merupakan jenis yang paling banyak ditemukan diperairan laut

Ordo lain seperti Sergestidae mempunyai 2 genus yang diketahui yaitu Lucifer dan Acetes. Adapun ciri-cirinya berikut klasifikasinya adalah sebagai berikut:
a. Lucifer :
 Bentuk tubuh pipih ke arah samping.
 Mempunyai mata yang agak kemerah-merahan.
 Hewan ini transparan selama hidup dan berubah menjadi agak jernih di dalam awetan serta otot-otot yang kelihatan jelas.
 Bagian atas cephalothorax bentuknya sangat panjang yang pada bagian ujungnya menunjang sepasang mata yang bertangkai besar.
 Abdomen lebih besar jika dibandingkan dengan bagian cephalothorax.
 Hewan jantan dan betina dapat dibedakan dari bentuk organ kemaluan mereka.
 Panjang sekitar 8-12 mm.
Hal yang menarik dari genus ini adalah fase protozoanya yang cukup panjang sehingga cukup banyak dijumpai, dengan ciri-ciri yang umum yaitu

1) Bentuk tubuh kurus
2) Telson yang berbetuk persegi tanpa percabangan
3) Ukuran sama dengan acetes protozoea
4) Mempunyai antenna bercabang
5) Karapak berduri pada kedua sisi dan pada bagian tengah

b. Acetes :
 Hewan ini mempunyai 3 pasang kaki jalan yang sempurna dan 2 puntung terdapat pada pasangan kaki jalan yang ke empat.
 Rostrum pendek.
 Rostrum dan Telson pendek.
 Mempunyai kaki renang yang sempurna dan tampak berbulu.
 Panjang antena sekitar 2-3 kali panjang tubuh.
 Panjang 3 cm atau lebih.
 Sebelum dewasa melalui 2 tahap, protozoea dan juvenile
 klasifikasinya
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Ordo : Sergestidae
Famili :
Genus : Acetes
Spesies : Acetes sp
(Hutabarat & Evans, 1986)

Pada ordo Amphipoda, sifat-sifat umumnya adalah tidak mempunyai kulit luar (carapace) dan bentuk tubuh pipih ke arah samping. Ordo Amphipoda salah satu genusnya yaitu Hyperia, ciri-cirinya adalah :
a. Mata biasanya berukuran sangat besar yang hampir menutupi seluruh permukaan kepala.
b. Tubuh berbentuk seperti huruf U.
c. Ruas dada pertama berpadu dengan kepala.
d. Hewan ini cenderung untuk terapung pada permukaan bahan awetan.
e. Panjang berkisar antara 2-7 mm.
f. Uropods memiliki rami
g. Maxilliped tidak memiliki palp
h. Klasifikasinya
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Ordo : Hyperidea
Famili :
Genus : Hyperia
Spesies : Hyperia sp
(Hutabarat & Evans, 1986)

Dan ordo Euphausida mempunyai ciri-ciri umum yaitu mata tidak mempunyai tangkai dan ruas abdomen terakhir menunjang ekor yang bercabang. Genus dari ordo ini contohnya Pseudeuphausia dengan ciri-ciri yaitu :
a. Kulit luar (carapace) menutupi bagian cephalothorax.
b. Terdapat insang (gill) yang sempurna yang terdapat pada pangkal anggota-anggota badan bagian dada.
c. Hewan ini mempunyai alat tubuh yang dapat mengeluarkan cahaya (luminescent organ) yang bentuknya menyerupai sebuah kancing mutiara yang berwarna merah muda.
d. Rostrum tampak lebar dan datar, tetapi tidak runcing.
e. Panjang bisa mencapai 5 cm.
f. Umunya ditemukan diperairan samudra
g. Klasifikasinya adalah
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Ordo : Euphasiaceae
Famili :
Genus : Euphasid
Spesies : Euphasid sp
(Hutabarat & Evans, 1986)

Biota lain yang umum di jumpai adalah Podon, klasifikasinya adalah
Filum : Phoronida
Kelas :
Ordo : Phoronidae
Famili :
Genus : Podon
Spesies : Podon sp
Karakteristik
1) Mempunyai mata yang besar
2) Mempunyai sepasang antenna yang terlihat seperti tanduk
3) Tubuh pendek

Filum : Phoronida
Kelas :
Ordo : Calanopiaceae
Famili :
Genus : Calanopia
Spesies : Calanopia sp
Karakteristik
1) Kepala langsing
2) Urosome terdiri dari 2 ruas yang merupakan cirri dari individu betina
3) Urosom jantan 5 ruas
4) Ukuran 1,8 – 1,9 mm
5) Mempunyai sepasang antenna yang panjang

Peranan zooplankton sebagai produsen sekunder ataupun sebagai konsumen primer sangat besar. Zooplankton sering melakukan gerakan naik turun pada perairan yang disebut sebagai migrasi vertical. Gerakan tersebut dimaksudkan untuk mencari makanan yaitu phytoplankton gerakan naik ke permukaan biasanya dilakukan pada malam hari, sedang gerakan ke dasar perairan dilakukan pada siang hari. Gerakan pada malam hari lebih banyak dilakukan karena adanya variasi makanan yaitu phytoplankton lebih banyak, selain itu dimungkinkan karena zooplankton menghindari sinar matahari langsung.
(Nontji, 1993)





BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Setelah kami melakukan praktikum identifikasi terhadap plankton baik phytoplankton maupun zooplankton dapat kami simpulkan:
- Pada sampel fitoplankton, ditemukan jenis fitoplankton yang beranekaragam
- Fitoplankton yang banyak ditemukan dalam pengamatan adalah jenis dari Diatom
- Dari sampel air laut ditemukan jenis dari Diatom dan Pyrrophyta, sedangkan sampel muara ditemukan jenis dari Diatom, Desmidiaceae, dan Chlorophyta. Untuk sampel air tambak hanya ditemukan jenis dari Desmidiceae.
- Dari sampel air tambak tidak ditemukan satupun zooplankton.
- Dari bentuk morfologi dan habitat plankton dapat digunakan untuk klasifikasi plankton.

4.2. Saran
- Praktikan sebelum melakukan praktikum diharapkan memperelajari dulu modul yang terlah diberikan sehingga praktikum dalat dilakukan dengan benar dan terpadu.
- Pada saat praktikum dimulai para asissten diharapkan lebih mengawasi para praktikan agar tercipta praktikum yang kondusif.
- Praktikum untuk kedepanya lagi dimohon mulai pada tepat waktu,sesuai dengan waktu yang sudah ditetapkan sebelumnya.



BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Arinardi, O. H, dkk. 1997. Kisaran Kelimpahan dan Komposisi Plankton Predominan di Perairan Kawasan Timur Indonesia. Jakarta: P3O-LIPI.
Hutabarat, S. dan Evans, S.M. 1986. Kunci Identifikasi Zooplankton. Jakarta : UI-Press
Nontji, A.1993.Laut Nusantara.Djambatan:Jakarta
Nybaken,J.W.1992.Biologi Laut.PT Gramedia Pustaka Utama:Jakarta
Romimohtarto,K dan S,Juwana.1999.Biologi Laut.Puslitbang Oseanologi-LIPI:Jakarta
Tait, R. V. 1981. Elements of Marine Ecology-An Introductory Course. Third Edition. London-Boston: Butterworths (Publisher) Inc.

BAB VI
LAMPIRAN



1 komentar:

Anonim mengatakan...

kalo bisa cantumka juga dokumentasi ketika praktkum seperti gambar fito nya